Petanttnews.com- Dari sebuah ruang publik sederhana di jantung Kota Ruteng, pesan kuat tentang persaudaraan dan kedamaian dipancarkan untuk seluruh Indonesia. Ribuan warga Manggarai berkumpul di Natas Labar, Selasa (2/9) malam, menyalakan lilin dan melantunkan doa lintas agama sebagai ikhtiar menjaga Indonesia tetap damai di tengah situasi nasional yang memanas.
Tanpa sekat identitas, masyarakat dari berbagai latar belakang agama, profesi, dan usia berdiri berdampingan. Cahaya lilin yang mereka nyalakan menjadi simbol harapan, sekaligus seruan moral agar perbedaan tidak lagi melahirkan kekerasan, perpecahan, dan kerusakan.
Doa bersama ini melibatkan Pemerintah Kabupaten Manggarai, unsur Forkopimda, Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB), lembaga pendidikan, organisasi mahasiswa, serta masyarakat umum. Tokoh-tokoh agama Katolik, Protestan, Islam, Hindu, dan Buddha memimpin doa secara bergilir, menegaskan bahwa persaudaraan lintas iman adalah fondasi utama kehidupan bersama.
Ketua FKUB Manggarai, Suster Maria Yohana, SSpS, menegaskan bahwa pertemuan di Natas Labar merupakan panggilan nurani bersama untuk menata ulang cara hidup dalam keberagaman.
“Kita berkumpul di sini untuk menyegarkan kesadaran bahwa perbedaan tidak boleh melahirkan pertikaian, kekerasan, atau perusakan. Malam ini adalah undangan istimewa untuk menumbuhkan semangat berdamai,” ujarnya.
Ia menambahkan, doa dan pengorbanan waktu yang dilakukan bersama merupakan wujud komitmen kolektif masyarakat Manggarai dalam merawat keharmonisan.
“Menyalakan lilin dan berdoa bersama akan memperkokoh persaudaraan. Dari tanah Manggarai, kita ingin menghadirkan damai bagi Indonesia,” katanya.
Sementara itu, Bupati Manggarai, Herybertus Nabit, menekankan bahwa perbedaan pendapat adalah bagian tak terpisahkan dari demokrasi, namun harus diekspresikan dengan cara yang bermartabat dan damai.
“Kita tidak berkumpul di Natas Labar untuk membungkam suara siapa pun. Semua boleh bersuara, tetapi dalam perbedaan kita tetap saudara. Manggarai akan selalu menjadi bagian dari rumah besar Indonesia,” tegas Bupati Nabit.
Ia mengibaratkan negara sebagai rumah bersama yang harus dijaga oleh pengurus dan penghuninya. Pemerintah, kata dia, berkewajiban memastikan rumah itu memberi rasa aman dan manfaat bagi semua.
“Kalau ada yang belum maksimal, mari disampaikan dengan cara yang baik. Unjuk rasa dijamin undang-undang, tetapi harus dilakukan secara damai,” ujarnya.
Bupati Nabit juga mengajak masyarakat Manggarai untuk mengekspresikan kecintaan kepada Indonesia dengan tindakan sederhana namun bermakna, yakni menjaga kedamaian.
“Kita mencintai Indonesia dengan cara masing-masing. Cara paling sederhana adalah memastikan damai tetap terjaga,” pungkasnya.
Kegiatan doa damai ini turut dihadiri Wakil Bupati Manggarai Fabianus Abu, pimpinan DPRD, unsur Forkopimda, pimpinan OPD, pengurus PKK, ASN, tokoh agama, tokoh pemuda, mahasiswa, pelajar, serta masyarakat umum.
Dari Natas Labar, Manggarai kembali menegaskan dirinya sebagai ruang hidup yang menjunjung tinggi persaudaraan, sekaligus mengirim pesan damai untuk Indonesia.***





















