Petanttnews.com,Ruteng- Festival Golo Curu 2025 tidak hanya menjadi perayaan iman dan budaya, tetapi juga bertransformasi sebagai ruang tumbuh ekonomi rakyat. Kegiatan yang digelar di Lapangan Gereja Katedral Ruteng sejak 3 Oktober 2025 itu dimanfaatkan para pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) untuk memasarkan produk sekaligus memperluas jaringan konsumen.
Ratusan pengunjung tampak memadati lapak-lapak UMKM yang menyajikan aneka produk lokal dan nonlokal. Aktivitas jual beli berlangsung intens, sementara produk-produk khas Manggarai diperkenalkan langsung kepada masyarakat luas.
Sejumlah pelaku UMKM mengaku merasakan dampak ekonomi yang signifikan dari penyelenggaraan festival tersebut. Nancy Deo, pelaku UMKM binaan Kopkardios, mengatakan keikutsertaannya selama tiga hari membawa hasil yang menggembirakan.
“Antusias masyarakat sangat tinggi. Dagangan kami semua terjual,” ungkapnya saat ditemui RealitaNTT, Senin (6/10/25).
Menurut Nancy, Festival Golo Curu tidak hanya membuka peluang transaksi, tetapi juga menjadi media promosi yang efektif karena produk mereka diperkenalkan langsung kepada pengunjung dari berbagai latar belakang.
Hal serupa dirasakan Rosalia Nganus, peserta Festival Golo Curu 2025 asal Desa Gurung Liwut, Kabupaten Manggarai Timur. Ia menilai festival ini memberi ruang bagi UMKM untuk menjangkau konsumen yang lebih luas dan beragam.
“Banyak keuntungan bagi kami pelaku UMKM. Sebab kami bukan sekedar menjual produk lokal, tetapi para pengunjung bisa mendapatkan pengalaman langsung terkait manfaat produk yang kami pasarkan,” ujarnya.
Ia berharap keterlibatan pelaku UMKM terus diperluas pada penyelenggaraan festival berikutnya.
“Festival ini telah mendatangkan berbagai pengunjung dari berbagai daerah, sehingga produk kami tidak hanya menjual, tetapi juga bisa mempromosikannya kepada para pengunjung,” tukasnya.
Sementara itu, penyelenggara festival menegaskan bahwa Festival Golo Curu dirancang tidak semata sebagai agenda hiburan, melainkan juga sebagai sarana pemberdayaan ekonomi umat. Ketua Panitia, Yosnono, menyampaikan bahwa tema pastoral Keuskupan Ruteng, Ekaristi Transformatif, Sumber dan Puncak Kehidupan Gereja, menjadi landasan utama kegiatan ini.
Melalui pendekatan tersebut, festival diharapkan mampu menghadirkan dampak nyata bagi kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat. Perputaran uang di sektor UMKM selama festival dinilai menjadi bukti bahwa kegiatan keagamaan dan budaya dapat berjalan seiring dengan penguatan ekonomi lokal.
Dengan tingginya partisipasi pengunjung dan pelaku usaha, Festival Golo Curu 2025 kian menegaskan perannya sebagai ruang perjumpaan iman, budaya, dan ekonomi rakyat di Kabupaten Manggarai.***




















