DAERAH  

Manggarai Perkenalkan Pariwisata Berbasis Nilai di Forum Internasional

Bupati Manggarai Herybertus G. L Nabit

Petanttnews.com- Kabupaten Manggarai kembali menarik perhatian dunia akademik internasional. Kali ini, melalui kehadiran Bupati Manggarai, Herybertus G. L. Nabit, sebagai pembicara dalam Konferensi Internasional bertema “Questioning Tourism: The Role of Catholicism in Asian Tourism” yang digelar di Universitas Katolik Indonesia (Unika) St. Paulus Ruteng.

Forum ilmiah tersebut mempertemukan akademisi, peneliti, dan praktisi pariwisata dari berbagai negara Asia untuk mendiskusikan peran agama, khususnya Katolik, dalam membentuk arah dan etika pengembangan pariwisata yang berkelanjutan dan berkeadilan sosial.

Dalam presentasinya yang disampaikan dalam bahasa Inggris, Bupati Herybertus menempatkan Manggarai sebagai contoh daerah yang tengah mengembangkan pariwisata berbasis nilai, bukan semata berbasis keuntungan ekonomi.

Menurutnya, pariwisata harus menjadi ruang perjumpaan antarmanusia yang mampu memperkuat spiritualitas, solidaritas sosial, serta penghormatan terhadap martabat manusia.

“Pariwisata bukan hanya soal angka kunjungan dan pendapatan. Ia harus menjadi medium refleksi, mempertemukan manusia dengan sesamanya, dengan alam, dan dengan nilai-nilai kemanusiaan,” ungkapnya.

Bupati Hery juga menegaskan bahwa pengembangan pariwisata Manggarai dilakukan dengan pendekatan partisipatif, di mana masyarakat lokal menjadi aktor utama, bukan sekadar penonton.

Keterlibatan warga, kata dia, merupakan pengejawantahan prinsip tourism for people, not just for profit, sekaligus sejalan dengan ajaran sosial Gereja Katolik tentang keadilan dan keberpihakan pada komunitas akar rumput.

Lebih lanjut, ia memaparkan bahwa kekuatan utama pariwisata Manggarai terletak pada harmoni antara iman Katolik dan budaya lokal yang hidup dalam keseharian masyarakat.

Dengan sekitar 95 persen dari 329 ribu penduduk Manggarai beragama Katolik, nilai-nilai religius tidak hanya membentuk kehidupan spiritual, tetapi juga memengaruhi cara masyarakat menjaga alam, merawat tradisi, dan menyambut wisatawan.

“Iman Katolik dan budaya lokal bukan sekadar identitas, tetapi modal sosial yang membedakan Manggarai dari destinasi lain di Asia,” jelasnya.

Konferensi internasional ini sekaligus menjadi ruang diplomasi akademik dan budaya bagi Manggarai, memperkenalkan wajah pariwisata daerah yang mengedepankan etika, keberlanjutan, dan martabat manusia di tengah arus pariwisata global.***

Penulis: Aristo wakuEditor: Tim Redaksi