DAERAH  

Pemkab Manggarai Dorong Perbaikan Pola Asuh Cegah Stunting

Stunting
Safrianus Haryanto Djehaut selaku Kadis Kesehatan Kabupaten Manggarai. Foto:Aristowaku/Petanttnews. com

Petanttnews.com,Ruteng-  Pemerintah Kabupaten Manggarai menegaskan bahwa upaya pencegahan stunting tidak bisa hanya mengandalkan intervensi gizi semata. Perubahan pola pengasuhan anak di tingkat keluarga dinilai menjadi kunci penting untuk menekan kasus stunting secara berkelanjutan.

Penegasan tersebut disampaikan Kepala Dinas Kesehatan Manggarai, Safrianus Haryanto Djehaut, menyusul dinamika angka stunting berdasarkan hasil pengukuran berkala yang dilakukan dua kali dalam setahun.

Safrianus menjelaskan, pada pengukuran Februari 2025, angka stunting tercatat sebesar 9 persen. Namun, pada pengukuran Agustus 2025, angka tersebut berada di level 13 persen.

“Pada pengukuran Februari 2025, angka stunting tercatat sebesar 9 persen. Namun, pada Agustus meningkat menjadi 13 persen. Jadi, ketika saya mulai menjabat, angkanya memang sudah berada pada 13 persen, bukan naik setelah saya dilantik,” jelas Safrianus saat ditemui di ruang kerjanya, Senin (10/11/2025).

Menurutnya, fluktuasi data tersebut mencerminkan kondisi riil di lapangan. Berbagai faktor turut memengaruhi, mulai dari pola pengasuhan, pemahaman gizi keluarga, hingga kondisi sosial dan budaya masyarakat.

Safrianus mengungkapkan, sekitar 40 persen anak yang mengalami stunting sebenarnya lahir dengan berat badan normal. Gangguan pertumbuhan justru mulai terlihat setelah anak memasuki fase pemberian Makanan Pendamping ASI (MPASI).

“Banyak anak lahir dengan berat badan normal, tetapi setelah masa MPASI justru mulai terganggu pertumbuhannya. Dugaan kuat saya, hal ini disebabkan oleh pola pengasuhan yang belum tepat,” ungkapnya.

Ia menilai, masih terdapat orang tua yang beranggapan bahwa ASI saja sudah mencukupi kebutuhan gizi anak, tanpa memperhatikan kebutuhan zat gizi tambahan setelah bayi berusia enam bulan.

“Sebagian masih beranggapan bahwa ASI saja sudah cukup, padahal pada usia tersebut anak mulai membutuhkan zat gizi tambahan untuk menunjang pertumbuhan otak dan tubuhnya,” tutur Safrinus.

“Kadang bayi hanya diberi ASI padahal sudah butuh MPASI, atau ketika anak tidak mau makan, orang tua tidak mencari alternatif makanan yang bergizi. Ini yang perlu kita ubah,” tambahnya.

Untuk memperkuat pencegahan stunting, Dinas Kesehatan Manggarai kini mengarahkan fokus pada edukasi keluarga serta pemantauan tumbuh kembang anak secara berkelanjutan sejak dini.

“Anak yang lahir normal harus dikawal pertumbuhannya hingga usia dua tahun. Jangan dilepas begitu saja, karena dalam perjalanan bisa saja mengalami gangguan pertumbuhan,” tegas Safrianus.

Ia juga menyoroti pentingnya pemantauan ketat terhadap bayi yang lahir dengan berat badan mendekati batas bawah.

“Sedikit saja berat badan turun, anak bisa masuk kategori stunting,” lanjutnya.

Sebagai langkah konkret, peran kader posyandu dan tenaga kesehatan akan diperkuat. Penimbangan dan pemantauan pertumbuhan anak akan dilakukan secara rutin setiap bulan.

“Setiap bulan akan dilakukan penimbangan dan hasilnya langsung dianalisis. Dengan begitu, anak yang menunjukkan tanda-tanda stunting bisa segera mendapatkan penanganan,” jelasnya.

Intervensi pencegahan, lanjut Safrianus, tidak hanya menyasar anak balita, tetapi juga dilakukan sejak remaja dan sebelum masa kehamilan. Ia mengungkapkan, sekitar 67 persen remaja putri di Manggarai memiliki kadar hemoglobin di bawah 10.

“Untuk itu, kami rutin membagikan tablet tambah darah bagi remaja putri dan ibu hamil. Ke depan, konsumsi tablet ini akan diawasi langsung oleh petugas agar benar-benar diminum,” ujarnya.

Safrianus menegaskan, stunting merupakan persoalan multidimensi yang tidak dapat ditangani oleh satu sektor saja. Faktor ekonomi, sosial, hingga kondisi psikologis ibu turut memengaruhi tumbuh kembang anak.

“Jadi ini bukan cuma soal gizi. Kadang ibu hamil stres, sering mendapat tekanan atau kekerasan, asupan makanannya tidak seimbang, semua itu bisa memengaruhi perkembangan janin,” terangnya.

Ia juga meluruskan anggapan bahwa stunting disebabkan oleh faktor genetik semata.

“Belum ada teori yang menyebut stunting murni karena keturunan. Anak tetap bisa tumbuh optimal dalam kemampuan bicara, motorik, dan kecerdasan jika mendapat asupan dan pengasuhan yang tepat,” tegasnya.

Menutup keterangannya, Safrianus menekankan pentingnya keterlibatan seluruh elemen masyarakat dalam upaya pencegahan stunting di Manggarai.

“Setiap anak di Manggarai punya hak untuk tumbuh sehat dan cerdas. Pemerintah tidak bisa bekerja sendiri, harus ada kesadaran kolektif dari keluarga dan masyarakat,” tutup Safrianus.***