DAERAH  

Tragedi Tiwu Pai, SMPK Fransiskus Prioritaskan Pencarian Korban

Tiwu Pai
SMPK St. Fransiskus Ruteng merupakan sekolah tempat Armendo W. Jeferson mengenyam pendidikan. Foto: Aristo/Petanttnews. com

Petanttnews.com- Tragedi tenggelamnya salah satu siswa kelas VIII bernama Armendo W. Jeferson (14) di Air Terjun Tiwu Pai, desa Toe, Reo Barat, menjadi duka mendalam bagi keluarga besar SMPK Fransiskus Ruteng.

Di tengah situasi tersebut, pihak sekolah memilih bersikap hati-hati dan bertanggung jawab dengan memusatkan perhatian pada pendampingan siswa serta dukungan penuh terhadap proses pencarian korban.

Kepala SMPK Fransiskus Ruteng, RD. Enchik Aldion, menyampaikan bahwa hingga saat ini pihak sekolah belum memberikan klarifikasi resmi terkait peristiwa tersebut. Sikap ini diambil sebagai bentuk kepatuhan terhadap arahan aparat kepolisian sekaligus penghormatan terhadap proses pencarian yang masih berlangsung.

“Kami sudah diperingatkan untuk tidak memberikan klarifikasi apapun karena saat ini semua petugas sedang fokus mencari korban yang hingga hari kelima ini belum ditemukan,” kata RD. Enchik, di ruangan kerjanya, Kamis (15/1/2026).

Menurutnya, seluruh keterangan dan informasi terkait kejadian tersebut telah ditangani oleh Polsek Reo. Karena itu, pihak sekolah diminta tidak memberikan pernyataan yang dapat mengganggu proses penyelidikan dan pencarian korban.

“Memang banyak publik bertanya tentang tanggapan sekolah terkait peristiwa ini, termasuk ada pihak yang mendatangi sekolah. Namun kami masih fokus ke pencarian korban,” ujarnya.

Selain fokus pada pencarian, SMP Fransiskus Ruteng juga memberi perhatian serius terhadap kondisi psikologis para siswa yang terlibat dan menyaksikan langsung peristiwa tersebut. Sebanyak 10 siswa telah menjalani pemeriksaan oleh pihak kepolisian dengan pendampingan langsung dari sekolah.

“Saya sendiri yang dampingi mereka pada hari pemeriksaan, kurang lebih berjalan sejak jam 10 pagi sampai jam 5 sore. Mereka sekarang sedang diistirahatkan di rumah masing-masing untuk pemulihan psikologis,” tutur Enchik.

Langkah pendampingan ini dinilai sebagai bagian dari tanggung jawab pendidikan dan moral sekolah agar para siswa dapat pulih dari trauma dan tetap mendapatkan perhatian yang layak.

Di sisi lain, pihak sekolah juga menegaskan kepedulian kemanusiaan dengan memberikan bantuan logistik kepada para petugas yang terlibat langsung dalam proses pencarian korban di lokasi kejadian.

“Kami turut mendukung upaya pencarian ini, meski tidak ada alat canggih seperti tim SAR kami membantu dengan memberikan sembako berupa beras, telur, mie, kopi dan gula untuk petugas,” kata Enchik.

Selain itu, terkait informasi bahwa korban tinggal di asrama, Enchik membenarkan hal tersebut, “Ia benar korban tinggal diasrama dalam”, ungkapnya.

kendati demikian, RD Enchik, menyampaikan bahwa penjelasan lebih rinci mengenai aturan dan kehidupan asrama belum dapat disampaikan karena fokus utama masih tertuju pada pencarian korban.

Selian itu, Ia juga menyebut bahwa pihak sekolah sejatinya diberikan waktu hingga Sabtu, 17 Januari mendatang, untuk memberikan keterangan lanjutan, meskipun hal itu belum bersifat pasti.

Lebih lanjut, Enchik mengenang korban sebagai pribadi yang baik, berperilaku sopan, serta aktif dalam kegiatan sekolah. Korban juga dikenal memiliki prestasi dan terlibat aktif dalam paduan suara sekolah. “Anak ini sangat baik, aktif dalam kegiatan koor sekolah”, jelasnya.

Pihak sekolah berharap korban dapat segera ditemukan agar keluarga memperoleh kepastian. SMP Fransiskus Ruteng menegaskan komitmennya untuk terus mendampingi para siswa, mendukung proses pencarian, serta menghormati sepenuhnya proses hukum yang sedang berjalan.***