Petanttnews.com, Ruteng- Partai Nasional Demokrat (NasDem) Manggarai memperkenalkan Bengkel Gagasan sebagai forum deliberasi, produksi pengetahuan, dan rekayasa kebijakan publik. Inisiatif ini bertujuan mengembalikan politik pada praktik yang rasional, bermartabat, dan berpihak pada kepentingan publik, bukan semata perebutan kekuasaan elektoral.
Ketua Bapilu DPD Partai NasDem Manggarai, Herry Baben, menegaskan bahwa Bengkel Gagasan menjadi wujud konkret semangat Restorasi Indonesia yang selama ini diperjuangkan NasDem.
“Politik tidak boleh direduksi menjadi transaksi kekuasaan dan kalkulasi elektoral. Partai harus kembali menjadi rumah gagasan, rumah nilai, dan penunjuk arah perubahan sosial,” ujar Herry Baben dalam keterangan pers, Senin (19/1/2026).
Herry menjelaskan, Bengkel Gagasan dirancang sebagai ruang intelektual yang mendorong diskursus publik secara rasional, argumentatif, dan berbasis data di tengah menguatnya populisme dangkal serta polarisasi identitas dalam demokrasi kontemporer.
“Demokrasi yang sehat lahir dari kualitas argumentasi publik yang terbuka terhadap kritik dan evidensi, bukan dari emosi sesaat,” katanya.
Secara strategis, Bengkel Gagasan bertujuan menginstitusionalisasikan budaya berpikir kritis di dalam partai, mengembangkan kader sebagai aktor perubahan, serta memproduksi agenda kebijakan publik yang progresif, inklusif, dan berkelanjutan.
Dalam operasionalnya, Bengkel Gagasan menerapkan prinsip Systematic, Coherent, dan Integrated (SCI) melalui seminar, lokakarya, dan diskusi tematik. Seluruh hasil diskursus didokumentasikan dalam policy paper dan rekomendasi strategis yang terhubung langsung dengan agenda legislasi serta kerja politik partai.
“NasDem memastikan kebijakan lahir dari argumen, bukan tekanan; dari kualitas ide, bukan patronase,” pungkas Herry Baben.
Bengkel Gagasan sebagai Laboratorium Kebijakan Publik
Senanda dengan Herry Baben, Anggota Dewan Pakar DPW Partai NasDem NTT, Pius Rengka, menyatakan Bengkel Gagasan terinspirasi dari pemikiran Jurgen Habermas tentang ruang publik deliberatif serta gagasan Antonio Gramsci mengenai kepemimpinan moral-intelektual dalam politik.
“Pertarungan politik sejatinya adalah pertarungan gagasan. Partai politik harus tampil sebagai intelektual kolektif yang membentuk kesadaran kritis dan orientasi nilai masyarakat,” ujar Pius dalam keterangan Pers, Senin 19 Januari 2026.
Pius menegaskan, Bengkel Gagasan tidak berhenti pada wacana normatif, tetapi berfungsi sebagai laboratorium kebijakan publik yang mengintegrasikan riset empiris, analisis kebijakan, evaluasi dampak, hingga perumusan rekomendasi yang dapat diimplementasikan.
“Setiap gagasan harus bisa diuji, diterapkan, dan dipertanggungjawabkan secara publik,” tegasnya.
Jawaban atas Pragmatisme dan Krisis Diskursus Publik
Menurut Pius, pembentukan Bengkel Gagasan menjadi respons atas menguatnya pragmatisme politik, melemahnya kualitas diskursus publik, serta terputusnya hubungan antara pengetahuan akademik, pengalaman sosial masyarakat, dan proses perumusan kebijakan.
Melalui Bengkel Gagasan, NasDem Manggarai menegaskan posisinya sebagai partai ideologis, modern, dan progresif, sekaligus berupaya membangun ekosistem deliberasi publik yang sehat dan berdaya transformasi.***





















