Petanttnews.com- Kadang saya heran, di dunia ini, orang bisa lebih percaya cerita daripada kenyataan. Lebih yakin pada suara ramai daripada suara hati.
Ada sebuah rumah besar. Potensinya besar, namanya besar, harapannya pun besar. Namun keuangannya, kecil. Stagnan. Jalan di tempat.
Seperti kolam luas yang airnya tampak tenang, tetapi bocor di dasarnya, Lalu datang seseorang. Bukan dengan iring-iringan. Bukan dengan baliho. Bukan dengan sorotan kamera. Ia datang dengan menunggang motor Smash biru. Motor tua, catnya pudar, bunyi mesinnya biasa saja, tetapi setia.
Ke mana-mana ia pergi dengan motor itu: dari cabang ke cabang, dari kantor ke kantor, dari masalah ke masalah.
Tidak tampak bergaya. Tidak terlihat mewah. Apalagi terkesan “berkuasa”. Namun semua orang tahu satu hal: ketika ia datang, keuangan mulai rapi. Ketika ia masuk, kebocoran perlahan hilang. Ketika ia mulai bekerja, sistem kembali hidup.
Ia bukan spesialis kotbah. Bukan ahli pencitraan. Bukan tukang janji. Ia adalah spesialis penertiban, ahli pengamanan, dan pekerja yang membereskan sampai tuntas.
Prosedur diubah. Alur keuangan dirapikan. Celah-celah ditutup. Yang bocor ditambal. Hasilnya nyata. Orang-orang pun manggut-manggut.
Dan seperti biasa, ketika keadaan mulai sehat, suasana ikut berubah. Yang dulu terbiasa longgar mulai belajar tertib. Yang dulu leluasa mulai mengenal aturan. Bukan karena niat buruk, melainkan karena kebiasaan lama. Bukan karena keliru, tetapi karena proses penyesuaian.
Lalu, tiba-tiba saja ruang publik menjadi ramai. Cerita beredar. Narasi bermunculan. Opini tumbuh. Bahkan hujatan lahir dari ujung jari.
Bukan lewat forum internal. Bukan lewat ruang evaluasi. Melainkan lewat media. Lewat percakapan publik. Lewat layar-layar kecil di tangan manusia.
Karena di zaman ini, cerita lebih cepat dari klarifikasi. Opini melaju lebih dulu daripada verifikasi. Narasi tiba sebelum kebenaran sempat berbicara.
Ia yang datang dengan motor Supra biru itu tidak ribut. Tidak membalas. Apalagi membangun drama. Ia tetap tenang. Tetap bekerja. Tetap menertibkan. Tetap merapikan.
Sesekali ia tersenyum, mengisap Nu Mild-nya sedikit lebih dalam. Sebab ia tahu satu hal: kebenaran tidak perlu berteriak. Ia cukup konsisten saja.
Publik pun bereaksi. Ada yang bertanya. Ada yang menilai. Ada yang menyimpulkan. Bahkan ada yang menghakimi.
Padahal, kebenaran sedang berjalan pelan, menunggang motor Supra biru, menuju waktunya sendiri.
Sebagai orang beriman, saya teringat: Yesus datang bukan menunggang kuda perang, melainkan keledai. Bukan dengan mahkota emas, tetapi mahkota duri. Bukan dengan kekuasaan, melainkan kebenaran.
Hari ini pun sama. Kebenaran sering hadir dengan cara sederhana. Sunyi. Tidak bergaya. Tidak viral. Tidak sensasional. Tetapi setia.
Maka tugas kita bukan membela yang paling ramai, melainkan yang paling benar. Bukan mengikuti kerumunan, tetapi mengikuti terang.
Sebab iman bukan soal simbol di dada, melainkan nurani di kepala. Bukan soal doa di bibir, tetapi keadilan dalam sikap. Dan pada akhirnya, bukan narasi yang menang. Bukan opini yang bertahan. Bukan keramaian yang abadi. Melainkan kebenaran. ***
Sumber : JJ (Umat Paroki Kumba)





















