DAERAH  

Dugaan Bullying Guru di Ruteng, Siswa Alami Tekanan Psikis

Siswa Kena korban Bullying oleh Gurunya Sendiri. Keterangan Foto: Ilustrasi.

Petanttnews.com, Ruteng- Dugaan tindakan bullying yang dilakukan oknum guru wali kelas terhadap seorang pelajar SMP di Kabupaten Manggarai menjadi sorotan publik. Siswa berinisial LS, yang duduk di bangku kelas VII SMP Negeri 2 Langke Rembong, Manggarai, NTT ini disebut mengalami tekanan psikologis oleh gurunya sendiri.

Kasus tersebut bermula dari hilangnya dana kas kelas sebesar Rp239 ribu yang sebelumnya dipercayakan kepada LS selaku bendahara kelas VII. Dana itu dilaporkan hilang saat seluruh siswa mengikuti pelajaran PJOK di lingkungan sekolah.

Berdasarkan hasil penelusuran internal sekolah, seorang siswa lain berinisial I disebut telah mengakui perbuatannya kepada wali kelas. Menindaklanjuti persoalan tersebut, pihak sekolah kemudian memanggil orang tua siswa I dan orang tua LS untuk dimintai pertanggungjawaban atas uang kas yang hilang.

AS selaku orang tua LS, mengaku telah memenuhi panggilan pihak sekolah dan menandatangani surat pernyataan untuk mengganti dana kas tersebut. Namun, keluarga berharap persoalan itu diselesaikan secara baik tanpa memberikan tekanan kepada anak mereka.

“Kami sudah menunjukkan itikad baik dengan menyelesaikan kewajiban. Namun kami berharap komunikasi tetap mengedepankan etika dan tidak memberikan tekanan kepada anak kami,” ungkap AS orangtua siswa yang dikutip dari SwaraNTT.com, Selasa 5 Mei 2026.

Persoalan kemudian memanas setelah wali kelas berinisial MD disebut menghubungi orang tua LS melalui sambungan telepon dengan nada tinggi dan meminta mereka segera datang ke sekolah. Keluarga menilai cara komunikasi tersebut bernada kasar dan memicu ketegangan.

“Saya kaget saat ditelepon dari nomor baru, ternyata wali kelas anak saya. Cara bicaranya kasar, bahkan saya mendengar adanya ancaman terhadap anak kami,” kesal orangtua siswa LS.

Untuk meredam situasi, orang tua LS mendatangi sekolah guna melakukan klarifikasi secara langsung. Pertemuan antara pihak keluarga dan sekolah berlangsung dalam suasana emosional sebelum akhirnya dimediasi aparat kepolisian demi menjaga kondusivitas.

Sementara itu, wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan SMP Negeri 2 Langke Rembong, Yosep Epol, menyatakan sekolah tetap berkomitmen menciptakan lingkungan belajar yang aman dan nyaman bagi seluruh siswa.

“Sekolah berkomitmen menghadirkan suasana belajar yang kondusif dan bebas dari tekanan. Setiap persoalan akan diselesaikan secara bijaksana dengan mengedepankan kepentingan terbaik bagi siswa,” tegasnya yang dikutip dari SwaraNTT.com, Selasa 5 Mei 2026.

Yosep mengaku baru mengetahui persoalan tersebut dan menilai masalah itu sebenarnya dapat diselesaikan secara internal di lingkungan sekolah.

“Ini sebenarnya masalah sepele. Jadi inikan hilang uang kas kelas oleh anak ini. Dia dipercayakan sebagai bendahara. Saya ini tidak tahu dan saya juga kaget, makanya saya sedikit kesal kenapa tidak kasih tahu dari tahun lalu,” katanya.

Pihak Sekolah Soroti Kehadiran Pihak Kepolisian

Kehadiran aparat kepolisian di sekolah juga disebut membuat pihak sekolah terkejut. Yosep menilai persoalan tersebut semestinya dapat diselesaikan secara kekeluargaan tanpa melibatkan pihak luar.

“Saya sempat tanya sampai polisi datang siapa yang telepon. Kita omong dengan orang luar itu kecuali kalau didalam (internal sekolah) sudah tidak bisa menyelesaikan persoalan ini,” jelasnya.

“Kehadiran mereka (Polisi) sangatlah terganggu. Karena kami mau menyelesaikan persoalan dengan secara kekeluargaan. Dan ini juga masalah sepele kenapa polisi hadir,” tambahnya.

Siswa LS alami Trauma Psikis

Sementara itu, LS dilaporkan mengalami tekanan psikologis sejak persoalan uang kas kelas tersebut mencuat. Kondisi itu disebut berdampak pada kehadirannya dalam kegiatan belajar di sekolah.

LS mengaku dirinya kerap merasa takut setiap kali harus mengikuti pelajaran, khususnya pada hari tertentu ketika bertemu wali kelasnya.

“Saya setiap hari Selasa pasti tidak pernah ke sekolah karena selalu mendapatkan tekanan psikologis dari guru wali kelas. Kalau pun saya ke sekolah pasti dia (MD) selalu marah dengan saya dan sering katakan kapan sudah bayar itu utang ee,” ungkap LS.

Pengakuan LS juga dibenarkan oleh kedua orang tuanya. Mereka mengaku mulai curiga setelah anak mereka beberapa kali tidak masuk sekolah setiap hari Selasa dengan alasan yang tidak jelas.

“Karena sudah sering terjadi seperti itu. Maka kami sebagai orang tua menanyakan anaknya kenapa setiap hari Selasa tidak ke sekolah. Dan pada saat itu juga baru anaknya mengaku kalau dia takut dapat tekanan dari sang guru yang juga merupakan wali kelasnya,” katanya.***