Petanttnews.com, Ruteng- Turnamen sepak bola antarpelajar dalam rangka Dies Natalis Unika Santu Paulus Ruteng ke- 67 tahun, yang seharusnya menjadi panggung sportivitas dan persaudaraan, justru berubah menjadi arena chaos. Pertandingan babak 8 besar antara SMK Negeri Wae Rii melawan SMK Tiara Nusa Borong, Selasa (12/5/2026), nyaris berakhir ricuh total setelah wasit utama diduga menjadi sasaran amukan ofisial dan penonton.
Laga yang berlangsung panas sejak menit awal itu dimenangkan SMK Tiara Nusa Borong dengan skor meyakinkan 2-0. Namun peluit panjang justru menjadi awal pecahnya keributan.
Diduga tidak menerima hasil pertandingan, salah satu ofisial tim SMK Wae Rii disebut menyerang wasit utama. Situasi kemudian semakin liar ketika sejumlah penonton ikut tersulut emosi dan masuk ke tengah lapangan. Pengamanan yang sempat kewalahan membuat kericuhan sulit dikendalikan.
Ironisnya, insiden tersebut tak sekadar dipicu ketidakpuasan terhadap keputusan pertandingan. Di balik panasnya laga 8 besar itu, muncul dugaan praktik judi taruhan bola yang disebut-sebut telah berlangsung sejak awal turnamen.
Beberapa penonton bahkan secara terbuka mengaku kehilangan uang taruhan dalam jumlah besar setelah tim jagoan mereka tumbang di babak krusial tersebut.
“Sumber kekacaun ini, karena taruhan. Makanya saling ribut”, kata salah satu penonton dilokasi kejadian.
Pantauan media ini menemukan adanya dugaan praktik taruhan uang yang berlangsung terang-terangan selama kompetisi berjalan. Aktivitas itu disebut melibatkan sejumlah penonton hingga diduga menyeret nama salah satu oknum panitia pelaksana.
Informasi yang dihimpun media ini juga menyebut taruhan dengan nominal jutaan rupiah terjadi dalam pertandingan lain, yakni laga antara SMAS Regina Pacis Bajawa melawan SMAN 1 Kota Komba.
Seorang penonton yang enggan disebutkan identitasnya mengaku praktik taruhan bukan lagi rahasia di arena turnamen pelajar tersebut.
“Taruhan ini sebenarnya sudah jalan sejak awal pertandingan. Mungkin baru ramai diketahui sekarang karena tadi sempat ricuh besar,” ungkapnya.
Menurut dia, emosi penonton memuncak setelah banyak pihak kehilangan uang taruhan akibat hasil pertandingan 8 besar yang dimenangkan SMK Tiara Nusa Borong.
Keributan yang berujung adu jotos antar penonton dan dugaan penyerangan terhadap wasit itu kini menjadi sorotan publik. Ajang yang semestinya menjadi ruang pembinaan bakat pelajar dan menjunjung nilai fair play justru tercoreng oleh aksi brutal dan aroma perjudian.
Publik pun mulai mempertanyakan kualitas pengawasan panitia terhadap jalannya turnamen, termasuk dugaan adanya pembiaran terhadap praktik taruhan di lingkungan pertandingan pelajar.
Sementara itu, saat dikonfirmasi melalui pesan WhatsApp, Ferdinandus Sulaiman menyampaikan bahwa panitia belum menerima laporan lengkap terkait insiden tersebut.
“Soal kericuhan, kami akan menerima laporan match summary dari match commissioner,” ujar Ferdinan kepada wartawan.
Terkait dugaan keterlibatan oknum panitia dalam praktik taruhan bola yang ramai dibicarakan usai pertandingan, Ferdinan juga belum memberikan penjelasan lebih jauh.
“Dan soal keterlibatan oknum panitia dalam praktik yang dituduhkan, saya belum bisa memberi keterangan,” pungkasnya.***





















