Petanttnews.com, Ruteng- Seorang guru perempuan bertugas di SMP Negeri 5 Ruteng, Kecamatan Ruteng, Kabupaten Manggarai, melaporkan dugaan tindak pidana penghinaan ke Sentra Pelayanan Kepolisian Terpadu (SPKT) Polres Manggarai, Selasa, 19 Mei 2026.
Laporan tersebut tercatat dalam Surat Tanda Penerimaan Laporan (STTPL) Nomor: STTPL/114.B/V/2026/SPKT/POLRES MANGGARAI/POLDA NUSA TENGGARA TIMUR.
Pelapor diketahui berinisial MGS (37), seorang Pegawai Negeri Sipil (PNS). Ia melaporkan kepala sekolahnya sendiri berinisial ES atas dugaan penghinaan.
Kronologi Guru MGS dan Kepsek ES Saling debat
Tepat Senin, 18 Mei 2026, MGS mengaku hadir di sekolah seperti biasa untuk mengerjakan tugas-tugas sekolah. Saat itu juga terdapat pengumuman di grup WhatsApp sekolah terkait pertemuan guru. Pengemuman pertemuan itu disampaikan oleh Kepsek ES.
Usai mengikuti pertemuan, MGS memilih pulang lebih awal karena anaknya sakit. Namun saat itu, Ia mengaku ada beberapa guru lain yang juga pulang pada waktu yang sama.
“Karena mendadak anak saya sakit, saya pulang. Namun sesampai di rumah sekitar pukul 14.30 Wita, saya mendapat pengumuman di grup dari kepala sekolah,” ujar MGS kepada wartawan, Selasa 19 Mei 2026.
Dalam pesan tersebut, kepala sekolah meminta guru-guru yang pulang tanpa penyampaian untuk menghadap ke ruangannya keesokan hari.
Pada Selasa, 19 Mei 2026 sekitar pukul 07.50 Wita, kembali muncul pengumuman di grup WhatsApp agar guru yang pulang lebih awal segera menghadap.
Setibanya di sekolah, MGS langsung menuju ruang kepala sekolah. Di ruangan itu sudah ada beberapa guru lain. Ada Pa Paul dan Pa Hiro.
“Saat ditanya siapa yang pulang lebih dulu, saya jawab saya satu Pa. Tapi beliau langsung bilang, ‘Kenapa kau jawab? Saya tidak tanya kamu,’” lanjut guru MGS.
Setelah itu, Ia mengaku sempat meminta maaf karena pulang tanpa penyampaian lantaran anaknya sakit. Namun, menurutnya, kepala sekolah langsung memukul meja dan melarang dirinya menandatangani absensi.
MGS mengaku sempat mencoba menjelaskan kembali alasannya pulang. Namun kepala sekolah disebut membentaknya dengan nada keras.
“Guru bodoh, tidak ada etika. Bodoh sekali. Silakan lapor, saya siap undurkan diri,” ujar MGS menirukan ucapan kepala sekolah di hadapan guru dan murid.
Menurutnya, kata “bodoh” itu diucapkan berulang-ulang dihadapan teman guru dan murid. Sehingga membuat dirinya merasa malu dan trauma psikis
Klarifikasi Kepsek ES
Sementara itu, Kepala SMP Negeri 5 Ruteng berinisial ES memberikan klarifikasi terkait laporan tersebut. Menurutnya, persoalan itu bermula saat dirinya memimpin apel upacara dan menekankan pentingnya disiplin kehadiran guru.
Usai apel, pihak sekolah menerima kedatangan tamu dari Gendang Rai sehingga seluruh guru kembali dikumpulkan dalam rapat singkat.
“Saya sudah sampaikan kepada bapak ibu guru supaya tidak pulang cepat dan tetap berada di sekolah sampai jam 12.30 Wita,” jelas ES, Via WhasApp, Selasa 19 Mei 2026
Namun beberapa menit setelah rapat selesai, ES mengaku melihat beberapa guru, termasuk MGS, meninggalkan sekolah sekitar pukul 10.00 Wita. Ia juga menemukan absensi pulang sudah ditandatangani.
Karena itu, dirinya memfoto absensi dan membagikannya ke grup WhatsApp sekolah sambil meminta guru-guru terkait untuk menghadap ke ruangannya pada keesokan hari.
Menurut ES, saat pertemuan berlangsung, MGS datang ke ruangannya ketika dirinya sedang mengerjakan analisis kebutuhan guru.
“Setelah itu dia datang mau isi absen saya langsung bilang ibu duduk dulu, saya tanya mana yang lain ya dia jawab saya satu. Dengan nada yang tidak enak akhirnya saya tanya ibu Mira kenapa Ibu jawab saya begitu K,” Jelas Kepsek ES.
Ia menjelaskan, guru ES selalu memotong pembicaraannya, membuat dirinya marah dengan memukul meja dalam ruangan tersebut.
“Saya bilang ibu pembangkang karena saya belum selesai bicara tetapi sudah dipotong,” ujarnya.
Ia juga membantah melakukan pemukulan terhadap MGS. Menurutnya, situasi memanas karena keduanya sama-sama berdiri dan saling mendekat saat berdebat.
“Saya tidak memukul. Kami sama-sama maju sampai muka bersentuhan, lalu dia teriak bilang dipukul,” jelasnya.
ES menilai persoalan tersebut muncul akibat penerapan disiplin yang lebih ketat di sekolah. Ia mengaku heran aturan disiplin justru memicu konflik internal.
“Kadang saya pikir salahnya di mana. Kita hanya menerapkan aturan supaya disiplin sekolah berjalan baik. Jika ada kurang penyampaian ini saya siap untuk datang ke kantor kae.Trimaksih,” pungkasnya.
Kasus tersebut kini masih dalam penanganan unit tindak pidana perlindungan perempuan dan anak di Polres Manggarai. ***





















