Petanttnews.com, Ruteng- Menjelang Kongres XXXIV dan Majelis Permusyawaratan Anggota (MPA) XXXIII PMKRI di Ruteng, Alexandro Rolandi, kader PMKRI Cabang Denpasar, menyampaikan gagasan besar yang menjadi landasan pencalonannya sebagai Calon Ketua Pengurus Pusat PMKRI.
Gagasan tersebut dirumuskan dalam konsep PMKRI SADAR, sebuah ikhtiar untuk memperkuat orientasi organisasi di tengah tantangan zaman yang terus berkembang.
Menurut Roland, setiap generasi PMKRI memiliki tanggung jawab untuk menjaga warisan nilai yang telah dibangun para pendahulu sekaligus menjawab perubahan yang terus bergerak dinamis.
Ia menjelaskan bahwa PMKRI SADAR bukan sekadar slogan politik organisasi, melainkan sebuah ajakan untuk membangun kesadaran kolektif di seluruh tingkatan kaderisasi dan kepemimpinan PMKRI.
“PMKRI SADAR adalah PMKRI yang sadar akan realitasnya, berakar pada nilai-nilainya, peka terhadap perubahan zaman, jelas arah perjuangannya, dan berani mewujudkan gagasannya dalam tindakan nyata,” ungkap Roland, Rabu 3 Juni 2026.
Menurutnya, organisasi yang besar bukan hanya organisasi yang aktif bergerak, tetapi organisasi yang memahami mengapa ia bergerak, ke mana ia bergerak, dan untuk siapa perjuangan itu dijalankan.
Dalam gagasanya yang berjudul Meneguhkan Nilai, Menguatkan Kaderisasi, Memperbarui Perjuangan, Roland menegaskan bahwa tantangan PMKRI saat ini bukan semata soal jumlah kader atau banyaknya kegiatan organisasi, melainkan bagaimana memastikan kaderisasi, perjuangan, dan kepemimpinan tetap berakar pada nilai-nilai dasar yang menjadi alasan PMKRI didirikan.
Sebagai implementasi dari PMKRI SADAR, Roland menawarkan empat agenda besar yang akan menjadi fokus perjuangannya.
Pertama, Peneguhan Nilai, dengan menjadikan Kristianitas, Intelektualitas, dan Fraternitas sebagai roh yang menghidupi seluruh proses kaderisasi, kepemimpinan, dan perjuangan organisasi.
Kedua, Revitalisasi Kaderisasi, dengan memastikan kaderisasi tetap menjadi jantung gerakan PMKRI melalui pembentukan kader yang berintegritas, berkapasitas intelektual, memiliki keberanian sosial, dan siap mengabdi bagi Gereja serta Tanah Air.
Ketiga, Penguatan Tradisi Intelektual, dengan menjadikan PMKRI sebagai ruang pembelajaran, refleksi, dialog, penelitian, dan produksi gagasan yang mampu menjawab kebutuhan zaman.
Keempat, Relevansi Perjuangan, yakni memastikan PMKRI hadir dan mengambil peran dalam berbagai persoalan yang menyangkut martabat manusia, keadilan sosial, demokrasi, pendidikan, lingkungan hidup, transformasi digital, serta masa depan generasi muda Indonesia.
Roland menilai perjuangan organisasi tidak dapat diukur hanya dari banyaknya pernyataan yang dibuat, melainkan dari keberanian untuk hadir dan mengambil bagian dalam menyelesaikan persoalan masyarakat.
Karena itu, ia menegaskan bahwa pencalonannya sebagai Ketua Pengurus Pusat PMKRI bukanlah sekadar kontestasi kepemimpinan, melainkan ajakan untuk membangun kembali orientasi perjuangan organisasi secara bersama-sama.
“Dengan kerendahan hati dan kesadaran penuh akan tanggung jawab yang menyertainya, saya menyatakan kesediaan untuk maju sebagai Calon Ketua Pengurus Pusat PMKRI dalam Kongres XXXIV dan MPA XXXIII di Ruteng,” tegasnya.
Melalui gagasan PMKRI SADAR, Roland berharap PMKRI tetap menjadi rumah besar kaderisasi dan perjuangan yang setia pada nilai-nilai dasarnya, relevan terhadap tantangan zaman, serta mampu memberikan kontribusi nyata bagi Gereja dan Indonesia.
Bagi Roland, kepemimpinan pada akhirnya akan dinilai dari nilai yang diwariskan, kader yang dibentuk, serta pengabdian yang ditinggalkan bagi organisasi, Gereja, dan bangsa.***





















