Petanttnews.com, Nagekeo- Komitmen Wakil Ketua Komite II DPD RI, Angelius Wake Kako, dalam mendorong peningkatan kualitas genetik ternak di Nusa Tenggara Timur mulai diwujudkan melalui langkah konkret di lapangan.
Melalui Gerakan Senator Inseminator yang digagasnya, Angelius turun langsung bersama peternak di Lape, Kabupaten Nagekeo, untuk mempersiapkan kandang jepit sebagai sarana pendukung pelaksanaan program Inseminasi Buatan (IB) yang dijadwalkan berlangsung pada Juli 2026.
Kehadiran Angelius di tengah para peternak menjadi bagian dari upaya memastikan program yang selama ini ia perjuangkan tidak berhenti pada tataran sosialisasi. Ia terlibat langsung dalam persiapan fasilitas yang nantinya digunakan untuk mendukung proses inseminasi sapi di wilayah tersebut.
Langkah itu merupakan tindak lanjut dari gagasan besar yang selama ini disampaikan Angelius mengenai pentingnya pemanfaatan teknologi reproduksi ternak untuk meningkatkan produktivitas dan kesejahteraan peternak.
Menurutnya, sektor peternakan memiliki potensi besar untuk menjadi penggerak ekonomi masyarakat apabila didukung dengan perbaikan kualitas genetik ternak.
Antusiasme masyarakat terhadap program tersebut dinilai menjadi sinyal positif bahwa peternak mulai terbuka terhadap berbagai inovasi di bidang peternakan.
Dukungan juga datang dari sejumlah dokter hewan yang secara sukarela bergabung untuk membantu pelaksanaan program di lapangan.
“Hari ini kami bersama komunitas peternak di Lape mempersiapkan kandang jepit untuk pelaksanaan Inseminasi Buatan bulan Juli nanti. Ini menunjukkan bahwa kesadaran peternak untuk meningkatkan kualitas ternak mulai tumbuh,” katanya Angelo.
Sebagai penggagas Gerakan Senator Inseminator, Angelius melihat bahwa salah satu tantangan utama peternakan di NTT bukan terletak pada jumlah ternak, melainkan kualitas genetik yang masih perlu ditingkatkan. Ia menilai praktik perkawinan alami yang berlangsung selama ini berpotensi menimbulkan perkawinan sedarah atau inbreeding yang berdampak pada mutu ternak.
“Kita memiliki populasi ternak yang besar, tetapi kualitasnya belum tentu baik. Salah satu tantangan yang kita hadapi adalah masih terjadinya perkawinan alami yang berpotensi menyebabkan inbreeding atau perkawinan sedarah sehingga berdampak pada kualitas genetik ternak,” ujarnya.
Menurut Angelius, pengembangan program Inseminasi Buatan di daerah juga masih menghadapi sejumlah kendala teknis. Ketersediaan semen beku dari pejantan unggul masih terbatas, sementara jumlah tenaga inseminator di lapangan belum mencukupi kebutuhan peternak yang tersebar di berbagai wilayah.
Karena itu, ia membangun kolaborasi dengan berbagai pihak untuk memperkuat pelaksanaan program. Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan, Balai Inseminasi Buatan Lembang, serta Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dilibatkan guna mendukung edukasi, pendampingan, dan penguatan kapasitas tenaga inseminator.
Dalam pelaksanaannya nanti, layanan Inseminasi Buatan akan diberikan secara gratis kepada peternak yang memiliki sapi betina dan bersedia mengikuti pendampingan teknis. Semen beku yang digunakan berasal dari pejantan unggul jenis Wagyu yang diharapkan mampu menghasilkan keturunan dengan nilai ekonomi lebih tinggi.
Bagi Angelius, program tersebut bukan sekadar kegiatan peternakan, melainkan bagian dari visi jangka panjang untuk membangun ekosistem peternakan modern di Nusa Tenggara Timur. Melalui Gerakan Senator Inseminator, ia ingin menghadirkan perubahan nyata yang dapat dirasakan langsung oleh masyarakat peternak.
“Semangat ini harus menjalar sampai ke pelosok desa. Jika kualitas genetik ternak dapat diperbaiki secara bertahap, maka kesejahteraan peternak akan meningkat dan NTT bisa menjadi salah satu kekuatan peternakan nasional,” tegasnya.
Ia berharap keberhasilan program yang dimulai dari Nagekeo dapat menjadi model bagi daerah lain di NTT. Dengan dukungan masyarakat, pemerintah, dan tenaga teknis di lapangan, perbaikan kualitas genetik ternak diyakini mampu meningkatkan produktivitas sekaligus memperkuat posisi NTT sebagai salah satu daerah sentra peternakan nasional.
Melalui aksi nyata yang dilakukan bersama para peternak di Lape, Angelius Wake Kako menunjukkan bahwa pembangunan sektor peternakan tidak cukup hanya dengan wacana. Persiapan kandang jepit yang dilakukan menjelang pelaksanaan program menjadi bukti bahwa perubahan dapat dimulai dari kerja bersama di tingkat akar rumput, dengan tujuan akhir meningkatkan kesejahteraan peternak dan memperkuat ekonomi daerah.***








