BERITA  

Perpustakaan di Ambang Krisis: Ketika Buku Tak Lagi Menjadi Teman

Mariani F. K. Gias. Mahasiswa Unika Ruteng Program Studi Bahasa dan Sastra Indonesia

Opini

Petanttnews.com, Ruteng- Perpustakaan pernah menjadi jantung peradaban. Di sanalah ilmu pengetahuan bersemayam, di sanalah generasi demi generasi datang untuk menyalakan pikiran mereka.

Namun, pemandangan hari ini sungguh berbeda. Perpustakaan yang seharusnya ramai oleh pengunjung haus ilmu kini kerap tampak lengang, bangku-bangkunya kosong, dan buku-bukunya berdebu.

Fenomena ini bukan sekadar masalah administratif, melainkan cerminan dari sebuah krisis yang lebih dalam: merosotnya budaya literasi di tengah masyarakat.

Data menunjukkan fakta yang mengkhawatirkan. Indonesia menempati peringkat yang sangat rendah dalam indeks literasi global. Menurut laporan Programme for International Student Assessment (PISA) yang diterbitkan oleh Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) pada tahun 2022, kemampuan membaca pelajar Indonesia berada jauh di bawah rata-rata negara-negara anggota OECD.

Kondisi ini bukan terjadi dalam semalam, melainkan merupakan akumulasi dari berbagai faktor yang saling berjalin selama bertahun-tahun.

Salah satu faktor utama yang kerap diabaikan adalah transformasi digital yang berlangsung begitu cepat tanpa diimbangi oleh pendidikan literasi yang memadai.

Kehadiran gawai pintar dan platform media sosial telah menggeser perhatian masyarakat, terutama generasi muda, dari buku ke layar sentuh.

Membaca kini dimaknai sebagai aktivitas yang melelahkan, sementara menggulir beranda media sosial selama berjam-jam dianggap hiburan yang menyenangkan.

Ironisnya, kedua aktivitas itu sama-sama melibatkan mata dan pikiran, namun hanya salah satunya yang membangun kapasitas intelektual secara bermakna.

Perpustakaan sendiri tidak sepenuhnya bebas dari tanggung jawab atas kondisi ini. Banyak perpustakaan, terutama di daerah, yang tidak berhasil bertransformasi sesuai kebutuhan zaman.

Koleksi buku yang usang, fasilitas yang tidak nyaman, jam buka yang terbatas, serta tidak adanya program komunitas yang menarik membuat perpustakaan terasa seperti museum artefak tua ketimbang ruang hidup yang dinamis. Perpustakaan yang baik seharusnya mampu menjadi ruang ketiga bagi masyarakat tempat selain rumah dan sekolah di mana orang merasa nyaman untuk belajar, berdiskusi, dan berkembang.

Pemerintah memang telah menunjukkan sejumlah upaya, seperti program perpustakaan keliling dan digitalisasi koleksi melalui aplikasi iPusnas. Namun upaya tersebut belum cukup menyentuh akar permasalahan.

Program literasi tidak bisa hanya berhenti pada penyediaan akses, karena akses tanpa budaya membaca ibarat membuka pintu perpustakaan tanpa ada yang mau masuk. Yang dibutuhkan adalah ekosistem literasi yang dibangun secara menyeluruh: dari keluarga, sekolah, masyarakat, hingga kebijakan negara.

Keluarga memegang peranan yang sangat fundamental dalam membentuk kebiasaan membaca. Anak-anak yang tumbuh dalam lingkungan di mana orang tua mereka gemar membaca cenderung memiliki minat baca yang lebih tinggi.

Sekolah pun perlu mengintegrasikan kegiatan membaca bukan sekadar sebagai kewajiban kurikuler, tetapi sebagai budaya yang menyenangkan.

Guru yang bersemangat membacakan cerita, diskusi buku yang hidup, dan kunjungan rutin ke perpustakaan dapat menanamkan kecintaan pada buku sejak dini.

Di sisi lain, perpustakaan perlu mereinvensikan dirinya. Model perpustakaan masa kini yang berhasil di berbagai negara maju tidak hanya menyediakan buku, tetapi juga menjadi pusat komunitas yang menyelenggarakan diskusi, pameran, lokakarya, hingga ruang kerja bersama.

Perpustakaan Umum Helsinki di Finlandia, misalnya, menjadi contoh inspiratif bagaimana sebuah perpustakaan bisa menjadi ruang yang begitu hidup dan digemari oleh semua kalangan usia. Indonesia memiliki potensi yang sama, asalkan ada kemauan politik dan investasi yang serius.

Minimnya literasi di perpustakaan bukan semata soal berapa banyak orang yang datang meminjam buku. Ini adalah soal masa depan bangsa. Masyarakat yang literat adalah masyarakat yang mampu berpikir kritis, tidak mudah terpapar hoaks, dan memiliki kapasitas untuk terus belajar sepanjang hayat. Tanpa literasi yang kuat, kita sedang membangun gedung tanpa fondasi megah di luar, rapuh di dalam.

Sudah saatnya perpustakaan kembali menjadi prioritas, dan budaya membaca diperjuangkan kembali sebagai warisan yang paling berharga yang bisa kita titipkan kepada generasi mendatang.***

Penulis: Mariani F. K. Gias

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *