BERITA  

Tri Dharma Jadi Jantung Pembelajaran Unika

Foto: Universitas Katolik Indonesia Santu Paulus Ruteng (Unika St. Paulus Ruteng) terus memperkuat kualitas pembelajaran dengan mendorong integrasi penelitian dan pengabdian kepada masyarakat ke dalam proses perkuliahan. (Ist.)

Petanttnews.com, Ruteng- Universitas Katolik Indonesia Santu Paulus Ruteng (Unika St. Paulus Ruteng) terus memperkuat kualitas pembelajaran dengan mendorong integrasi penelitian dan pengabdian kepada masyarakat ke dalam proses perkuliahan.

Komitmen tersebut diwujudkan melalui Lokakarya Integrasi Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat dalam Pembelajaran yang berlangsung pada 9 hingga 10 Juni 2026 di Gedung Utama Barat (GUB) Lantai 5.

Kegiatan yang diikuti para dosen dari berbagai program studi itu menjadi bagian dari program strategis Wakil Rektor I Tahun Akademik 2025/2026.

Melalui lokakarya tersebut, dosen didorong untuk menghadirkan pembelajaran yang lebih kontekstual, inovatif, dan memberikan dampak nyata bagi mahasiswa maupun masyarakat.

Integrasi Tri Dharma menjadi fokus utama dalam kegiatan tersebut. Sekretaris Wakil Rektor I Unika St. Paulus Ruteng, Dr. Primus Domino,  menjelaskan bahwa penelitian, pengabdian kepada masyarakat, dan pembelajaran merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan dalam pendidikan tinggi.

“Tri Dharma Perguruan Tinggi merupakan satu kesatuan ekosistem akademik yang saling mendukung dan saling menguatkan. Karena itu, penelitian, pengabdian kepada masyarakat, dan pembelajaran tidak boleh berjalan sendiri-sendiri, tetapi harus terintegrasi dalam setiap proses penyelenggaraan pendidikan tinggi,” jelasnya.

Menurut Primus, lokakarya tersebut sebenarnya diperuntukkan bagi seluruh dosen. Namun karena keterbatasan fasilitas, setiap program studi hanya mengutus sepuluh dosen sebagai peserta, sementara Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) mengirimkan dua puluh dosen.

Pada hari pertama, peserta mendapatkan materi dari Dr. Marselus Ruben Payong, dalam pemaparannya, para dosen diajak memahami berbagai strategi dan model implementasi integrasi Tri Dharma ke dalam proses pembelajaran.

Melalui pendekatan tersebut, mahasiswa tidak hanya menerima teori di ruang kuliah. Mereka juga diberi kesempatan untuk terlibat langsung dalam kegiatan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat sehingga proses belajar menjadi lebih autentik dan relevan dengan persoalan sosial yang dihadapi masyarakat.

Pembelajaran Kontekstual menurut Rektor Unika St. Paulus Ruteng, Dr. Agustinus Manfred Habur, menjadi salah satu tujuan utama dari integrasi Tri Dharma.

Ia menegaskan bahwa perguruan tinggi tidak hanya bertugas mengajar, tetapi juga menghasilkan pengetahuan melalui penelitian dan menghadirkan manfaat bagi masyarakat.

“Ketiga unsur Tri Dharma ini sesungguhnya bukan tiga aktivitas yang berjalan sendiri-sendiri, melainkan saling terhubung dan saling memperkaya,” tegasnya saat membuka kegiatan.

Rektor menilai hasil penelitian dan pengalaman pengabdian harus dibawa masuk ke ruang kelas agar pembelajaran menjadi lebih hidup serta mampu menjawab kebutuhan masyarakat.

“Dengan demikian, pembelajaran menjadi lebih kontekstual, relevan dengan kebutuhan masyarakat, serta mampu membentuk mahasiswa yang tidak hanya menguasai teori, tetapi juga peka terhadap realitas sosial dan mampu menghadirkan solusi bagi lingkungan sekitarnya,” ungkapnya.

Ia berharap hasil lokakarya tidak berhenti pada tataran konsep. Sebaliknya, seluruh materi yang diperoleh harus diterjemahkan ke dalam perencanaan perkuliahan, pengembangan bahan ajar, serta praktik pembelajaran di masing-masing program studi.

“Melalui cara ini, budaya akademik yang transformatif, kolaboratif, dan berkarakter akan semakin tumbuh di lingkungan Unika Santu Paulus Ruteng,” tambahnya.

Dampak bagi mahasiswa turut menjadi perhatian peserta lokakarya. Salah satu peserta, Drs. Eliterisu Sennen, menilai kegiatan tersebut memiliki manfaat besar dalam meningkatkan kualitas pembelajaran dan pengalaman belajar mahasiswa.

“Saya kira kegiatan hari ini sangat berdampak positif, terutama bagi mahasiswa. Mahasiswa tidak hanya memperoleh teori di dalam kelas, tetapi juga mendapatkan pengalaman langsung melalui kegiatan pengabdian kepada masyarakat maupun penelitian,” ungkapnya.

Menurut Eliterisu, keterlibatan mahasiswa dalam penelitian dan pengabdian akan membantu mereka memahami berbagai persoalan masyarakat secara lebih mendalam. Selain itu, kemampuan mahasiswa dalam mencari solusi berbasis pendekatan ilmiah juga akan semakin terasah.

Ia juga mengapresiasi tingginya antusiasme para dosen selama mengikuti kegiatan. Semangat yang ditunjukkan peserta dinilai mencerminkan besarnya perhatian terhadap upaya peningkatan mutu pembelajaran di perguruan tinggi.

“Saya melihat para peserta sangat antusias dan bersemangat mengikuti seluruh rangkaian kegiatan. Semangat yang ditunjukkan selama kegiatan berlangsung menggambarkan besarnya minat para dosen terhadap program ini,” katanya.

Di akhir kegiatan, Eliterisu berharap seluruh peserta mampu mengimplementasikan hasil lokakarya dalam proses pembelajaran sehari-hari.

“Harapan saya, para peserta tidak sekadar menyelesaikan kegiatan hari ini, tetapi memiliki kemauan untuk mempraktikkan dan mengimplementasikan apa yang diperoleh dalam pembelajaran. Yang terpenting adalah bagaimana hasil kegiatan ini diterapkan dan memberikan manfaat nyata bagi mahasiswa maupun masyarakat,” tuturnya.

Melalui lokakarya ini, Unika St. Paulus Ruteng kembali menegaskan komitmennya dalam meningkatkan mutu pendidikan tinggi.

Pembelajaran berbasis penelitian dan pengabdian kepada masyarakat diharapkan mampu melahirkan lulusan yang unggul secara akademik, memiliki kepedulian sosial, berpikir kritis, serta siap berkontribusi bagi pembangunan masyarakat. ***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *