BERITA  

OPINI: Ketergantungan Pada AI Teknologi Mengancam Integritas Akademik

Foto: Maria Opivianti Nduwung mahasiswa Unika St. Paulus Ruteng.(Aristo Waku/Petanttnews.com)

Petanttnews.com, Ruteng- Saya tidak setuju penggunaan AI oleh mahasiswa. Saya sebagai mahasiswa merasa terancam dan dikendalikan oleh robot.

AI mulai dikenal/booming mulai dari tahun 2022 sampai sekarang. Ada banyak macam AI, bukan hanya satu.

Penggunaan AI oleh mahasiswa, saya pikir, sangat berbahaya. “Apakah AI menyelamatkan atau membunuh? Mari bersama-sama refleksi tentang ini.”

Manusia mana yang tidak ingin instan? Makanan saja cari yang instan, apalagi suatu pekerjaan. Saya sungguh sangat menentang penggunaan AI.

Tentu saja saya mempunyai alasan, dan ini terjadi atau yang saya rasakan selama menggunakan AI.

Nyatanya, AI membuat kita menurunkan kualitas belajar. Kalau semua tugas langsung lempar ke AI, proses berpikir, analisis, dan pemahaman kita bisa tertinggal.

Jadi, saya merasa pemahaman saya kurang, dangkal, sempit, cuma “tau jawaban” tapi tidak tau cara kerjanya. Saya merasa seperti seorang manusia yang tidak bisa berpikir apa-apa, selalu bergantung pada AI.

https://petanttnews.com/wp-admin/post.php?post=7260&action=

Penggunaan AI bisa mematikan kemampuan kritis. Semua tugas, jawaban, dan ide diserahkan kepada AI. Otak saya merasa malas berpikir.

Dan menurut saya, kampus juga sangat merasa terancam karena dapat mengancam integritas akademik. Plagiarisme jadi lebih gampang.

Kampus seharusnya khawatir mahasiswa menyerahkan hasil kerja AI sebagai pekerjaan sendiri tanpa mengerti isinya.

Satu penyebab “brainrot”: brainrot sendiri adalah pembusukan otak, di mana otak kita terbiasa untuk tidak berpikir kritis, dan ini disebabkan oleh media, termasuk AI.

Pada akhirnya, kemampuan kita untuk problem solving dan kreativitas bisa berkurang.

Saya sebagai mahasiswa pengguna AI dengan tidak benar sering kali mencari jawaban di AI tanpa mencari bukti atau fakta apakah jawaban yang diberikan oleh AI benar, akurat, atau tidak.

Terakhir, ketergantungan pada AI membuat kita rapuh. Semakin bergantung pada teknologi, semakin besar risikonya ketika sistem error, macet, atau diserang siber.

Kemampuan dasar manusia yang seharusnya diasah justru hilang karena semua diserahkan kepada mesin/robot.

Jadi, tanpa pantauan yang jelas, dampak negatif AI lebih besar daripada manfaatnya.

Jangan sampai kita tidak ada bedanya dengan hewan, karena yang membedakan kita dengan hewan adalah kita makhluk berpikir, sedangkan hewan tidak. Ayo kita musnahkan “BRAINROT”.***

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *