Gebyar Budaya SMPN 4 Langke Rembong, Menanam Akar Budaya di Tengah Tantangan Zaman

Siswa SMPN 4 Langke Rembong, sedang melakoni dramatisasi Ritus Adat Nempung. Foto: Aristo/Petanttnews com

Petanttnews.com, Ruteng- Di tengah derasnya arus teknologi yang terus mengubah pola hidup generasi muda, SMPN 4 Langke Rembong memilih menutup tahun ajaran 2025/2026 dengan cara yang berbeda.

Sekolah ini menggelar Gebyar Budaya bertema “Gali Potensi, Raih Prestasi Menuju Generasi Emas dan Berbudaya”, sebuah panggung yang tidak hanya menampilkan kreativitas siswa, tetapi juga menjadi ruang untuk merawat identitas budaya Manggarai.

Kegiatan tersebut menjadi puncak proses pembelajaran selama satu tahun ajaran sekaligus wadah pengembangan minat, bakat, dan karakter peserta didik.

Di hadapan orang tua murid, para guru, serta perwakilan Dinas Pariwisata dan Dinas Pendidikan, Kepemudaan dan Olahraga (PPO) Kabupaten Manggarai, para siswa menunjukkan hasil pembelajaran yang tidak hanya berorientasi pada akademik, tetapi juga pada penguatan nilai-nilai budaya..Dalam sambutannya, Kepala SMPN 4 Langke Rembong, Damianus Labur, menegaskan bahwa kegiatan tersebut bukan sekadar agenda rutin setelah ujian semester. Menurutnya, Gebyar Budaya merupakan cerminan proses pendidikan yang berlangsung sepanjang tahun.

“Secara kelembagaan berkomitmen dalam membentuk generasi yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki karakter, kreativitas, serta kecintaan terhadap budaya lokal”, ungkap kepala sekolah Damianus Labur, Sabtu 13 Juni 2026.

Kepala Sekolah bersama guru, SMPN 4 Langke Rembong, Dinas Pariwisata Manggarai, Dinas PPO Manggarai. Foto: (Aristo/Petanttnews.com)

Menurut Damianus, sekolah berusaha memadukan kecakapan teknologi dengan nilai-nilai budaya Manggarai agar siswa mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman tanpa kehilangan jati diri.

“Siswa di didik sejak dini, untuk menanamkan nilai-nilai budaya ditengah tantangan teknologi hari ini. Pada akhirnya kegiatan ini membentuk karakter siswa melalui kreativitas selama proses kegiatan. Kita tidak saja melihat saat siswa melakoni kegiatan, tapi bagaimna mereka berpikir kritis selama proses hingga berlangsung kegiatan tersebut” jelasnya.

Lebih jauh, ia berharap sekolah dapat menjadi ruang strategis untuk memperkenalkan dan menghidupkan kembali budaya Manggarai kepada generasi muda.

“Setiap tahun tema diangkat berbeda-beda, namun tahun ini memilih tema gebyar Budaya, dengan alasan kita mau kembangkan serta memberikan gambaran kepada peserta didik bahwa inilah kekayaan budaya Manggarai yang kita miliki, bukan saja dihafal tetap dipraktekkan dalam lembaga sekolah, yang berujung pada penanaman nilai-nilai dalam kehidupan, ditengah lunturnya budaya Manggarai ditengah arus zaman”, tegasnya.

Salah satu penampilan yang paling menyita perhatian pengunjung adalah pentas seni budaya yang diperankan langsung oleh para siswa kelas VII dan VIII. Dengan mengenakan kain songket dan busana putih layaknya orang tua dalam ritual adat, para siswa menampilkan Acar Teing Hang, Drama Ritus Adat Nempung, dan Dramatisasi Ritus Adat Libur Kilo.

Penampilan tersebut mendapat sambutan meriah dari para penonton. Tepuk tangan berkali-kali terdengar saat para siswa memainkan peran masing-masing dengan penuh penghayatan. Bagi banyak orang tua, pemandangan itu terasa istimewa karena ritual-ritual tersebut biasanya diperagakan oleh orang dewasa dalam kehidupan masyarakat Manggarai.

Apresiasi terhadap kegiatan tersebut juga datang dari Dinas PPO Kabupaten Manggarai. Pemerintah menilai model pembelajaran yang mengintegrasikan budaya ke dalam aktivitas sekolah dapat menjadi contoh bagi sekolah-sekolah lain.

“Orangtua Murid dan para guru yang luar biasa dan anak-anak yang inspirasi. Terimaksih dan apresiasi atar karya dan kolaborasi. Hari ini merupakan inspirasi bagi kami untuk berbagi kesekolah lain. Bagi kami anak-anak tidak hanya dibekali ilmu kognitif tetapi mereka perlu belajar budaya karena budaya akar kehidupan,” jelasnya, Sabtu (13/6/2026).

Menurut Mansueta Saiman yang mewakili Kepala Dinas PPO Manggarai, pendidikan budaya akan semakin bermakna apabila diterapkan dalam kehidupan sehari-hari bersama keluarga.

“Kedepan anak-anak berkolaborasi dengan orangtua murid. Kebetulan ada rumah ada Ruteng Pu’u, yang dekat dengan kita. Kedepan bagaimna anak-anak bisa mempraktekan penerima tamu. melalui tarian caci, mbata”, pungkasnya.

Salah satu siswa melakoni peran dalam pentas budaya dramatitasi ritus adat Nempung. Foto: Aristo/Petanttnews. com

Dukungan juga datang dari para orang tua siswa. Mereka menilai kegiatan tersebut menjadi langkah positif dalam membangkitkan kembali kecintaan generasi muda terhadap budaya Manggarai yang mulai tergerus perkembangan zaman.

“Saya mewakili orangtua murid Saya sangat bangga atas pendidikan hari ini untuk membangkitkan budaya Manggarai. Saya sangat bangga mulai dari kepala sekolah dan guru lain. kami berharap kedepan bagi guru tidak hanya sampai disini saja, tetap terus menerus untuk membangkitkan anak-anak kami disekolah dibidang pendidikan budaya Manggarai”, jelas Yohanes Barus asal taga, Sabtu 13 Juni 2026.

Selain pentas budaya, Gebyar Akhir Tahun juga diisi berbagai perlombaan yang melibatkan seluruh siswa kelas VII dan VIII. Perlombaan tersebut mencakup bidang olahraga melalui lomba bola voli putra dan putri antarkelas, bidang teknologi dan kerja sama tim melalui E-Sport Free Fire, serta bidang seni melalui lomba paduan suara, vokal solo, dan tari tradisional maupun tari kreasi.

Seluruh rangkaian kegiatan berlangsung selama sepekan sebelum mencapai puncaknya pada Sabtu, 13 Juni 2026. Kegiatan itu dihadiri seluruh orang tua murid, guru, siswa SMPN 4 Langke Rembong, serta perwakilan Dinas Pariwisata dan Dinas PPO Kabupaten Manggarai.

Lebih dari sekadar perayaan akhir tahun ajaran, Gebyar Budaya SMPN 4 Langke Rembong menunjukkan bahwa sekolah dapat menjadi ruang penting untuk menjaga warisan budaya tetap hidup. Di tengah kemajuan teknologi, para siswa diajak untuk tetap mengenal, memahami, dan mencintai akar budayanya sendiri sebagai bagian dari identitas yang tidak boleh hilang oleh zaman.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *