Petanttnews, Ruteng- Uskup Keuskupan Ruteng, Yang Mulia Mgr. Siprianus Hormat, mengajak kader Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) Sanctus Thomas Aquinas untuk menjadikan hati nurani sebagai fondasi kepemimpinan dan pembangunan bangsa.
Pesan itu disampaikannya saat memimpin Misa Pembukaan Kongres Nasional XXXIV dan Majelis Permusyawaratan Anggota (MPA) XXXIII PMKRI di Gereja Katedral Ruteng, Paroki Santa Maria Assumpta dan St. Yoseph, Minggu (19/7/2026).
Dalam khotbahnya, Mgr. Siprianus menyoroti bahwa persoalan mendasar yang dihadapi Indonesia bukanlah kekurangan sumber daya manusia yang cerdas, melainkan semakin langkanya pribadi yang memiliki hati nurani dan keberpihakan kepada masyarakat kecil.
Menyoroti tema sentral kongres, ia mengajak seluruh kader PMKRI merefleksikan arah pembangunan bangsa. Menurutnya, pertanyaan terpenting bukan hanya mengenai model pembangunan yang sedang dijalankan, tetapi juga mengenai kualitas manusia yang membangun negeri ini.
Menurutnya, Indonesia saat ini tidak kekurangan orang pintar atau kaum intelektual. Tantangan terbesar bangsa justru terletak pada kelangkaan manusia yang memiliki hati nurani, mereka yang peka dan peduli terhadap kebutuhan masyarakat kecil dan tertindas.
Di hadapan para delegasi PMKRI dari berbagai daerah di Indonesia, Uskup Ruteng juga mengingatkan bahwa Kongres dan MPA tidak boleh dipandang semata sebagai agenda pergantian kepemimpinan organisasi. Setiap keputusan yang diambil harus melahirkan pemimpin yang berpihak kepada mereka yang mengalami ketidakadilan.
“Di hadapan altar kudus ini, kita diingatkan bahwa setiap keputusan sidang pada akhirnya harus melahirkan sosok pemimpin yang mampu menyentuh dan berpihak pada masyarakat adat, kaum tertindas, serta mereka yang kehilangan hak atas keadilan,” tegas Mgr. Siprianus.
Mengacu pada perumpamaan tentang gandum di ladang yang bercampur dengan ilalang, Mgr. Siprianus menjelaskan bahwa kehidupan selalu diwarnai oleh realitas yang kompleks. Kebaikan dan kejahatan, kejujuran dan kecurangan, sering kali tumbuh berdampingan. Karena itu, ia mengajak kader PMKRI untuk menunjukkan keberpihakan melalui tindakan nyata, bukan sekadar slogan.
“Kalian semua dipanggil untuk menjadi gandum, bukan menjadi lalat. Lalat itu lantang dalam slogan, tetapi kosong dalam pelaksanaan. Sebaliknya, jadilah gandum yang bertumbuh subur dan menghasilkan buah bagi sesama,” ujarnya secara analogis.
Ia juga mengingatkan bahwa perjuangan melawan ketidakadilan harus dilakukan dengan cara-cara yang tetap berkeadilan. PMKRI, menurutnya, harus terus melahirkan kader yang matang secara intelektual maupun emosional.
“Kader yang matang adalah mereka yang selalu mampu melawan ketidakadilan. Namun ingat, jangan sampai cara-cara kita dalam melawan ketidakadilan justru berubah menjadi bentuk ketidakadilan yang baru. Perubahan yang sejati harus dimulai dari dalam diri,” pesannya.
Menutup khotbahnya, Mgr. Siprianus mengajak seluruh peserta Kongres dan MPA mengambil setiap keputusan secara matang dan strategis. Ia mengibaratkan dinamika organisasi seperti permainan catur, yang menuntut kemampuan membaca situasi sebelum mengambil langkah.
“Kongres ini harus berjalan seperti filosofi catur. Kader PMKRI harus mampu melihat situasi dan menimbang keadaan sebelum melangkah, bukan melangkah baru kemudian menimbang risikonya. Fokus utama kongres ini bukanlah tentang siapa yang akan menduduki jabatan struktural, melainkan bagaimana memperjuangkan keadilan secara matang dan strategis,” tutup Mgr. Siprianus Hormat.

