Dokter RSUD Ruteng Tuai Sorotan Tajam Usai Komentar Kontroversial

dr. Benny C. Sihombing dokter yang bertugas di RSUD Ruteng. Foto: Tangkapan Layar IG Lambeh_turah

Petanttnews com, Ruteng- Seorang dokter yang bertugas di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Ruteng, Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur (NTT), menjadi sorotan publik setelah komentarnya di media sosial Threads terkait keluhan seorang pasien pengguna BPJS Kesehatan viral dan dinilai sebagian warganet tidak empatik.

Polemik bermula dari unggahan akun Threads @yurizaltrich pada 23 Juli 2026. Dalam unggahannya, pemilik akun mengaku telah menunggu selama delapan jam untuk mendapatkan ruang perawatan. Ia juga menyinggung statusnya sebagai peserta BPJS Kesehatan.

“8 jam blm dpt ruangan. Gamau spill RS-nya, soalnya gue pake BPJS,” tulis korban.

Unggahan tersebut kemudian viral dan memperoleh jutaan tayangan. Di tengah ramainya tanggapan warganet, dr. Benny C. Sihombing, yang diketahui bertugas di RSUD Ruteng, memberikan komentar melalui akun Threads @bennychrstn.

“Kalau full, mau dipindahkan ke mana? Mau di lantai? GK ada hubungannya sama BPJS atau nggak BPJS yang make. Banyak, otomatis yang dirawat juga banyak, gak cuma u sendiri. Kalau mau pindah cepat, ruang jenasah selalu kosong. Ngeselin dah. Nakes/RS bahkan pemerintah melalui BPJS susah bantuin, masyarakat malah gini,” tulis dr. Benny.

Komentar tersebut menuai kritik dari warganet karena dinilai tidak mencerminkan empati terhadap pasien yang sedang mengeluhkan pelayanan kesehatan.

Beberapa hari kemudian, seorang pengguna Threads yang mengaku sebagai sepupu pemilik akun mengabarkan bahwa Yurizal meninggal dunia pada 31 Juli 2026. Dalam unggahannya, ia menyebut korban diduga terlambat mendapatkan penanganan saat kondisinya sudah kritis.

“Yurizal, sender ini sepupu saya, sudah meninggal 31 Juli kemarin, karena terlambat ditangani RS karena sudah gawat banget. Maafin sepupu saya kalau curhat gini di Threads. Sebelumnya dia sakit enggak pernah cerita bahkan ke keluarga, apa-apa nyimpen sendiri. Sudah ya, jangan ada hate lagi di sini,” tulis akun tersebut.

Unggahan tersebut kembali memicu gelombang simpati sekaligus memperluas perdebatan di media sosial. Namun, perlu ditegaskan bahwa pernyataan mengenai dugaan keterlambatan penanganan berasal dari unggahan anggota keluarga korban dan hingga kini belum dikonfirmasi secara resmi oleh pihak rumah sakit yang menangani pasien. Berdasarkan informasi yang tersedia, pasien tersebut juga bukan merupakan pasien RSUD Ruteng.

Di tengah sorotan publik, dr. Benny akhirnya menyampaikan permohonan maaf secara terbuka melalui akun Threads miliknya. Ia menyampaikan belasungkawa atas meninggalnya pemilik unggahan dan menyatakan siap bertanggung jawab atas komentarnya.

“Saya ingin menyampaikan permohonan maaf atas ketikan saya di Threads. Saya juga menyampaikan turut berdukacita atas meninggalnya pemilik utas yaitu @yurizaltrich. Saya bertanggung jawab penuh atas tulisan yang saya posting dan saya siap menerima konsekuensi dari RS, IDI, MKEK, pengadilan ataupun instansi lain. Semoga ke depannya, saya akan lebih bijak lagi dalam bermedia sosial,” tulis dr. Benny.

Menanggapi polemik tersebut, Humas RSUD Ruteng, Ns. Yohana R. D. Mari, S.Kep., menyampaikan bahwa manajemen menghargai perhatian, kritik, dan masukan dari masyarakat.

“Selamat siang, meluruskan bahwa pasien itu bukan pasien di RSUD Ruteng. Tetapi dokter Benny benar bertugas di RSUD Ruteng. Komentar beliau di akun pribadi,” jelasnya, Rabu, 5 Agustus 2026.

“Kami menyampaikan terima kasih kepada seluruh masyarakat yang telah memberikan perhatian, kritik, dan saran kepada kami,” ujarnya.

Ia mengatakan, pihak rumah sakit menyadari unggahan yang beredar telah menimbulkan rasa tidak nyaman bagi banyak pihak. Karena itu, setiap masukan akan dijadikan bahan evaluasi untuk memperbaiki pelayanan ke depan.

“Menindaklanjuti hal tersebut, pihak manajemen telah melakukan langkah-langkah sesuai aturan dan kebijakan internal rumah sakit kepada oknum yang terkait,” katanya.

Yohana menegaskan komentar yang menjadi polemik merupakan opini pribadi dan tidak mewakili sikap maupun standar pelayanan RSUD Ruteng.

“Kami sampaikan pernyataan yang dimaksud merupakan opini pribadi yang bersangkutan dan tidak mewakili sikap, nilai, maupun standar RSUD Ruteng. Hal ini juga bertentangan dengan kode etik yang berlaku di lingkungan kami,” tegasnya.

Sebagai bentuk komitmen, lanjut Yohana, RSUD Ruteng akan terus melakukan pembinaan kepada seluruh tenaga kesehatan dan staf agar lebih santun, bijaksana, dan bertanggung jawab dalam menyampaikan informasi di ruang publik.

“Sebagai komitmen kami akan terus membina seluruh tenaga kesehatan dan staf agar lebih baik, santun, dan bertanggung jawab dalam menyampaikan informasi di ruang publik. Pelayanan humanis dan profesional akan terus kami jaga,” ujarnya.

Ia menutup pernyataannya dengan mengajak masyarakat bersama-sama membangun pelayanan kesehatan yang lebih baik.

“Terima kasih atas dukungan dan kepercayaan masyarakat. Mari bersama-sama membangun pelayanan kesehatan yang lebih baik,” pungkasnya.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *