Bandung- Majelis Permusyawaratan Anggota (MPA) XXXIII Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) Nasional akhirnya menetapkan kepemimpinan baru.
Setelah dinamika panjang dalam pelaksanaan MPA di Ruteng, Nusa Tenggara Timur (NTT), yang tidak menghasilkan keputusan, sidang MPA lanjutan di Bandung berhasil memilih Yohanes Tola sebagai Mandataris MPA/Formatur Tunggal/Ketua Presidium Pengurus Pusat (PP) PMKRI periode 2026-2028.
Sidang tersebut berlangsung dengan dinamika dialektika dan adu gagasan hingga mencapai puncaknya pada penetapan ketua terpilih secara sah. Terpilihnya Yohanes Tola membawa harapan baru bagi konsolidasi organisasi PMKRI di tingkat nasional.
Dalam pidato perdananya setelah ditetapkan sebagai Mandataris MPA/Formatur Tunggal/Ketua Presidium PP PMKRI, Yohanes Tola menyampaikan terima kasih atas kepercayaan seluruh cabang serta menekankan pentingnya menjaga persatuan internal organisasi.
“Dinamika yang kita lalui dari Ruteng hingga Bandung adalah bukti ketangguhan dan kedewasaan berorganisasi seluruh kader PMKRI. Perbedaan pandangan adalah hal lumrah, namun komitmen terhadap pembinaan dan perjuangan organisasi adalah yang utama. Hari ini, tidak ada lagi sekat. Kita berjalan bersama merawat konsolidasi internal, menguatkan nilai tiga benang merah organisasi: Fraternitas, Kristianitas, dan Intelektualitas, serta mengembalikan peran strategis PMKRI di tengah gereja dan bangsa,” ujar Yohanes Tola, Mandataris MPA/Formatur Tunggal/Ketua Presidium PP PMKRI periode 2026–2028.
Setelah terpilih, Yohanes Tola bersama kepengurusan baru PP PMKRI akan memprioritaskan sejumlah agenda strategis untuk memastikan organisasi kembali solid dan mampu menjalankan peran pembinaan serta perjuangannya di tingkat nasional.
Agenda pertama ialah penyusunan kabinet PP PMKRI. Dalam kapasitasnya sebagai Formatur Tunggal, Yohanes Tola akan menuntaskan formasi kepengurusan baru secara inklusif dan akuntabel.
Agenda berikutnya adalah rekonsiliasi dan konsolidasi nasional. Langkah ini diarahkan untuk mengukuhkan kembali potensi seluruh cabang PMKRI di Indonesia setelah pelaksanaan MPA XXXIII yang diwarnai dinamika internal.
Selain itu, kepengurusan baru akan memperkuat kaderisasi dan respons terhadap isu-isu nasional.
“PMKRI akan mempertajam arah pembinaan kader sekaligus meningkatkan respons aktif terhadap berbagai persoalan sosial, politik, dan kebangsaan,” tegas Mantan Ketua Jogja ini.
Selesainya MPA XXXIII lanjutan di Bandung menandai dimulainya babak baru bagi PMKRI. Organisasi tersebut diharapkan terus hadir sebagai wadah pembinaan mahasiswa Katolik yang kritis, solutif, serta memberikan dampak bagi gereja dan bangsa Indonesia.***

