Ruteng- Masa tanggap darurat pascagempa bumi yang mengguncang Flores pada Sabtu, 15 Agustus 2026, sebagian warga Kabupaten Manggarai masih bertahan di tenda pengungsian karena khawatir kembali ke rumah.
Kondisi tersebut mendorong berbagai pihak terus bergerak memenuhi kebutuhan dasar masyarakat, termasuk Dewan Pimpinan Daerah (DPW) Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Nusa Tenggara Timur (NTT) bersama Dewan Pimpinan Daerah (DPD) PSI Kabupaten Manggarai.
PSI menyalurkan bantuan kemanusiaan secara bertahap kepada warga terdampak gempa di sejumlah titik di Kabupaten Manggarai. Bantuan menyasar warga yang masih berada di tenda serta posko-posko pengungsian yang membutuhkan dukungan.
Penyaluran dilakukan berdasarkan data dan pemetaan kebutuhan masyarakat di lapangan. Ribuan paket bantuan disiapkan untuk menjangkau ratusan titik selama beberapa hari ke depan.
Sekretaris PSI NTT, Junaidin Mahasan, mengatakan penyaluran bantuan pada hari pertama menyasar wilayah Kecamatan Langke Rembong dan Wae Ri’i.
“Kami menyalurkan ribuan paket sembako di Puluhan Titik. Untuk hari pertama wilayah Kecamatan Langke Rembong dan wilayah Wae Ri’i,” kata Junaidin Mahasan, Rabu (19/8/2026).
Menurut Junaidin, PSI sebelumnya telah menyalurkan bantuan kepada warga terdampak gempa di Kecamatan Reok. Distribusi di wilayah tersebut telah menjangkau 41 titik, di antaranya Desa Bajak dan Desa Salama.
“Bantuan ini kami salurkan berdasarkan data dan prioritas kebutuhan korban. Sebelumnya kami sudah masuk di 41 titik di Kecamatan Reok,” ujarnya.

Bantuan yang diberikan berupa beras, mi instan, air mineral, dan terpal. Kebutuhan pangan menjadi prioritas karena masyarakat masih menghadapi situasi sulit setelah gempa, sementara sebagian warga belum dapat kembali menjalankan aktivitas seperti sebelum bencana.
“Setelah kita mengelilingi, kita melihat mereka membutuhkan makanan. Karena itu, kita prioritaskan terlebih dahulu kebutuhan korban gempa,” kata Junaidin.
Di salah satu posko warga di Wae Ri’i, bantuan tidak sekadar diserahkan secara simbolis. Tim PSI berdialog langsung dengan masyarakat untuk mendengarkan kondisi dan kebutuhan mereka.
Junaidin dan beberapa kader PSI Manggarai juga menyempatkan diri berbicara dengan sejumlah anak yang berada di lokasi pengungsian. Dari interaksi tersebut, PSI melihat bahwa pemulihan pascabencana tidak hanya membutuhkan bantuan berupa makanan dan perlengkapan tempat tinggal sementara.
Trauma akibat bencana juga menjadi persoalan yang perlu mendapatkan perhatian. Karena itu, PSI menyiapkan pendampingan psikologis bagi masyarakat terdampak, khususnya mereka yang mengalami trauma setelah gempa.
Pendampingan tersebut diharapkan membantu warga melewati masa sulit selama berada di pengungsian. “Nanti selain bantuan sembako akan ada pendampingan tim psikolog bagi mereka yang trauma,” ujar Junaidin.
Menurut dia, kebutuhan psikologis masyarakat, terutama anak-anak, tidak boleh diabaikan dalam penanganan bencana. Anak-anak yang mengalami langsung guncangan gempa dan harus tinggal di tenda membutuhkan perhatian agar rasa takut dan trauma yang mereka alami dapat ditangani.
“Penanganan korban gempa tidak cukup hanya dengan memenuhi kebutuhan pangan dan tempat tinggal sementara. Pemulihan kondisi psikologis masyarakat juga perlu diperhatikan,” katanya.
PSI berkomitmen untuk terus memantau kebutuhan masyarakat di lokasi terdampak. Penyaluran bantuan akan disesuaikan dengan kondisi setiap wilayah sehingga bantuan yang diberikan benar-benar menjawab kebutuhan warga.
PSI Libatkan Kader, Lanjutkan Bantuan ke Manggarai Timur
Dalam kegiatan tersebut, Junaidin turut didampingi sejumlah kader PSI dari daerah pemilihan di NTT, yakni Randi Agnisio Durhaman dari Dapil NTT VII yang meliputi Malaka, Belu, dan Timor Tengah Utara; Filmon Loasana dari Dapil NTT I Kota Kupang; Simson Polin; serta Debora Gemelina Arborea Lendi dari Dapil NTT III yang meliputi Sumba Timur, Sumba Tengah, Sumba Barat, dan Sumba Barat Daya.

Keterlibatan mereka menjadi bagian dari upaya membantu masyarakat yang sedang menghadapi masa sulit akibat bencana.
Setelah menyelesaikan distribusi bantuan di Kabupaten Manggarai, PSI dijadwalkan melanjutkan aksi kemanusiaan ke Kabupaten Manggarai Timur pada Jumat, (21/8/2026).
DPW PSI NTT akan berkoordinasi dengan DPP PSI untuk melanjutkan penyaluran bantuan. Selain kebutuhan dasar, pendampingan psikologis juga akan diberikan kepada masyarakat yang membutuhkan.
“Jumat kita ke Manggarai Timur bersama PSI pusat. Selain bantuan kebutuhan dasar warga terdampak, kita juga dampingi mereka dari trauma dampak gempa ini,” kata Junaidin.
Junaidin menegaskan bahwa penanganan bencana merupakan tanggung jawab bersama. Pemerintah membutuhkan dukungan berbagai pihak untuk memastikan kebutuhan masyarakat terdampak dapat terpenuhi dengan cepat.
“Semua ini kerja kolaborasi. Tidak hanya pemerintah, tetapi PSI juga hadir di tengah masyarakat untuk membantu mereka,” ujarnya.
Ia berharap masyarakat terdampak tetap kuat dan sabar menjalani masa pemulihan. PSI, kata dia, akan terus melihat kondisi warga di lapangan dan menyesuaikan bantuan dengan kebutuhan masing-masing lokasi.
“Harapan kami kepada masyarakat yang terdampak tetap sabar. Kami akan selalu ada menjadi bagian dari korban. Kami tidak akan menutup mata. Kami selalu memperjuangkan apa yang mereka rasakan, karena apa yang mereka rasakan itu yang kami rasakan,” tegasnya.
Bagi warga yang masih bertahan di tenda, bantuan tersebut menjadi dukungan penting untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari selama masa tanggap darurat.
Warga Apresiasi Bantuan PSI
Salah satu penerima bantuan di Wae Ri’i, Suster Sefrianan Neno Funan DGE, menyampaikan terima kasih atas bantuan yang diberikan PSI kepada warga.
“Kami para suster di Wae Ri’i bersama beberapa keluarga yang ada di kemah ini menyampaikan terima kasih karena selama masa pascagempa telah memberikan sumbangan dalam situasi seperti ini,” ujar Suster Sefriana

Ia menjelaskan, terdapat 16 anggota komunitas suster yang berada di lokasi tersebut bersama lima keluarga yang masih menempati tenda.
“Kami anggota komunitas suster ada 16 orang dengan lima keluarga yang bersama di tenda ini,” lanjutnya.
Kehadiran warga di tenda-tenda pengungsian menggambarkan bahwa kebutuhan masyarakat belum berakhir setelah gempa berlalu. Mereka masih membutuhkan makanan, air, perlengkapan tempat tinggal sementara, serta dukungan psikologis.
Di tengah kondisi tersebut, solidaritas berbagai pihak menjadi bagian penting dalam proses pemulihan. PSI memastikan bantuan akan terus disalurkan dengan melihat kebutuhan warga di lapangan, sementara pendampingan psikologis disiapkan untuk membantu masyarakat, terutama anak-anak, menghadapi trauma akibat bencana.
Bantuan kemanusiaan itu diharapkan dapat meringankan beban warga selama masa tanggap darurat sekaligus menjadi bentuk dukungan agar masyarakat terdampak dapat perlahan bangkit dan kembali menjalani kehidupan secara normal.***

