Ruteng- Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) terus memperkuat penanganan masyarakat terdampak gempa bumi Flores. Pemerintah memastikan bantuan tidak hanya terkonsentrasi di wilayah yang mudah dijangkau, tetapi juga menyentuh masyarakat di pelosok.
Hal itu disampaikan Gubernur NTT Melki Laka Lena saat mengunjungi posko pengungsian di Poka, Desa Longko, Kecamatan Wae Ri’i, Kabupaten Manggarai, Jumat malam, 21 Agustus 2026.
Dalam kunjungan tersebut, Melki Laka Lena bersama Wakil Ketua Komisi IX DPR RI Charles Honoris membawa dua truk bantuan untuk masyarakat terdampak gempa.
Bantuan Pemerintah Provinsi NTT diserahkan di Aula Paroki St. Fransiskus Xaverius Poka dan diterima secara simbolis oleh Romo Endick.
Bantuan tersebut terdiri atas 150 karung beras, 150 dos mi instan, terpal, bantal, air minum, serta sejumlah kebutuhan dasar lainnya.
Melki mengatakan pemerintah terus berupaya memastikan kebutuhan masyarakat terdampak gempa terpenuhi, terutama warga yang berada di wilayah sulit dijangkau.
Ia juga mengajak masyarakat tetap tabah dan saling membantu selama masa pemulihan pascagempa.
“Kita harus tetap tabah dan saling membantu menghadapi situasi pascagempa. Pemerintah akan terus hadir memastikan kebutuhan masyarakat terpenuhi, terutama di wilayah yang sulit dijangkau,” kata Melki.
Dalam kesempatan itu, Melki menyampaikan apresiasi kepada Komisi IX DPR RI yang turun langsung melihat kondisi masyarakat dan fasilitas kesehatan terdampak gempa di Flores.
Menurut dia, berdasarkan data pemerintah, lebih dari 400 fasilitas kesehatan di Flores mengalami kerusakan. Fasilitas yang terdampak meliputi rumah sakit, puskesmas dan puskesmas pembantu (Pustu)..
“Kami berharap dukungan pemerintah pusat dapat mempercepat pemulihan fasilitas kesehatan, termasuk dua rumah sakit yang mengalami kerusakan di daratan Flores,” ujarnya.
Melki mengatakan, distribusi bantuan kini menghadapi tantangan lain. Persoalannya bukan semata-mata ketersediaan bantuan, tetapi memastikan bantuan tersebut diterima masyarakat yang membutuhkan, terutama mereka yang tinggal di pelosok.
“Bantuan yang masuk ke Flores sudah cukup banyak. Tantangan kita sekarang adalah memastikan bantuan tersebut benar-benar sampai kepada masyarakat di pelosok,” katanya.
Karena itu, setelah mengunjungi Poka, rombongan melanjutkan perjalanan menyisir wilayah Manggarai Timur hingga Maumere. Penelusuran tersebut dilakukan untuk melihat langsung kondisi masyarakat, khususnya di wilayah yang dinilai belum tersentuh bantuan secara optimal.
Selain bantuan kebutuhan dasar, pemerintah juga mulai menyiapkan pemulihan sektor pendidikan yang terdampak gempa.
Melki menjelaskan, sekolah yang belum dapat digunakan akan melaksanakan kegiatan belajar mengajar sementara di tenda darurat. Sementara sekolah yang mengalami kerusakan ringan akan diperbaiki.
“Sekolah yang belum dapat digunakan akan dilaksanakan sementara di tenda darurat. Bangunan yang rusak ringan direnovasi dan yang rusak berat akan dibangun kembali,” jelasnya.
Melki menegaskan penanganan bencana tidak berhenti setelah masa tanggap darurat berakhir. Pemerintah mulai menyiapkan tahapan transisi menuju rehabilitasi dan rekonstruksi.
Menurut dia, proses pemulihan membutuhkan koordinasi lintas sektor agar penanganan masyarakat dan pembangunan kembali fasilitas yang rusak dapat berjalan efektif.
“Pemerintah Provinsi NTT akan terus memperkuat koordinasi dengan pemerintah kabupaten, pemerintah pusat, BNPB, TNI-Polri, serta seluruh elemen masyarakat agar pemulihan Flores berjalan cepat dan tepat sasaran,” tegas Melki.
Kunjungan bersama Komisi IX DPR RI tersebut menjadi bagian dari upaya pemerintah melihat langsung dampak gempa sekaligus memastikan kebutuhan masyarakat, layanan kesehatan dan pendidikan menjadi perhatian dalam proses pemulihan Flores.***

