Polres Manggarai Dampingi Anak Pulihkan Trauma Pascagempa

Manggarai- Polres Manggarai terus melakukan trauma healing bagi anak-anak dan warga penyintas gempa bumi Magnitudo 7,7 di Kabupaten Manggarai. Pendampingan psikologis ini dilakukan untuk membantu masyarakat menghadapi kecemasan dan trauma setelah bencana.

 

Kegiatan trauma healing dilakukan secara berkelanjutan oleh personel Konselor/Terapis Polres Manggarai bersama Konselor/Terapis Polda NTB di sejumlah wilayah terdampak, terutama di lokasi pengungsian.

Terbaru, kegiatan tersebut berlangsung di Tempode, Desa Salama, Kecamatan Reok, Jumat (21/8). Kegiatan dimulai pukul 09.00 hingga 14.00 WITA dan melibatkan tiga personel Konselor Polres Manggarai serta tiga personel Konselor Polda NTB.

Para konselor memberikan pendampingan kepada warga dan anak-anak penyintas. Mereka diajak berinteraksi untuk membangun rasa aman sekaligus mengurangi kecemasan yang muncul setelah mengalami gempa.

Selain pendampingan psikologis, warga penyintas juga menerima bantuan berupa 10 paket sembako dan makanan ringan.

Sehari sebelumnya, Kamis (20/8/), kegiatan serupa dilaksanakan di Kampung Golo Langkok dan Kampung Compang, Kecamatan Rahong Utara.

Kegiatan tersebut dipimpin Wakapolres Manggarai Kompol Mei Charles Sitepu, S.H., bersama Konselor/Terapis Polres Manggarai. Selain memberikan trauma healing, tim juga menyerahkan 120 paket sembako kepada warga terdampak.

Sebelumnya, Rabu (19/8/), trauma healing juga dilakukan di Kampung Bone Wangka dan Kampung Motor Pecah, Kelurahan Wangkung, Kecamatan Reok.

Kegiatan itu melibatkan tiga Konselor/Terapis Polres Manggarai dan tiga Konselor/Terapis Polda NTB. Sebanyak 20 kepala keluarga penyintas menerima 20 paket sembako sekaligus mendapatkan pendampingan psikologis.

Kapolres Manggarai AKBP Levi Defriansyah, melalui jajaran terkait, mengatakan kehadiran Polri di tengah masyarakat terdampak bencana tidak hanya berkaitan dengan keamanan, tetapi juga menyentuh aspek kemanusiaan dan pemulihan psikologis.

“Polres Manggarai akan terus hadir di tengah masyarakat terdampak gempa. Trauma healing akan dilakukan secara berkelanjutan di berbagai wilayah terdampak, terutama di pos-pos pengungsian, dengan perhatian khusus kepada anak-anak yang membutuhkan dukungan untuk memulihkan kondisi mental dan psikologisnya,” ungkapnya.

Dalam setiap kegiatan, personel juga berdialog langsung dengan para pengungsi. Mereka mendengarkan keluhan, kebutuhan, serta harapan masyarakat selama berada dalam situasi pascabencana.

Pendekatan tersebut dilakukan agar berbagai persoalan yang dihadapi penyintas dapat diketahui dan ditindaklanjuti sesuai kemampuan serta kewenangan Polri.

Selain trauma healing, Polres Manggarai terus membantu memenuhi kebutuhan dasar masyarakat melalui penyaluran makanan, minuman, sembako dan bantuan lainnya.

“Polri akan terus berupaya memberikan pelayanan terbaik bagi masyarakat. Kami ingin memastikan masyarakat tidak merasa sendiri dalam menghadapi situasi pascabencana ini. Kehadiran personel di lapangan diharapkan dapat memberikan rasa aman, tenang dan menguatkan semangat masyarakat untuk bangkit,” tambahnya.

Polres Manggarai mengajak masyarakat untuk tetap saling menguatkan dan menjaga kebersamaan selama proses pemulihan pascagempa.

Masyarakat juga diimbau tetap tenang dan waspada, mengikuti informasi serta arahan petugas, dan menghindari lokasi yang dinilai berbahaya.

Pendampingan psikologis bagi penyintas menjadi bagian penting dalam proses pemulihan setelah bencana. Melalui trauma healing, Polres Manggarai berupaya membantu anak-anak dan warga terdampak agar perlahan kembali merasa aman dan mampu menjalani aktivitas di tengah kondisi pascagempa.***