Manggarai- Pemulihan pascagempa bumi Magnitudo 7,7 di Nusa Tenggara Timur (NTT) terus dipercepat. Salah satu sektor yang menjadi perhatian utama adalah energi karena berperan penting dalam mendukung mobilitas masyarakat, distribusi bantuan, layanan kesehatan hingga aktivitas ekonomi.
Pertamina Patra Niaga memastikan seluruh jaringan distribusi energi di Pulau Flores telah kembali beroperasi dan siap melayani kebutuhan masyarakat.
Per 20 Agustus 2026, sebanyak 56 Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di Pulau Flores atau 100 persen dari total SPBU telah kembali beroperasi.
Hal tersebut disampaikan Area Manager Comm., Rel, & CSR Jatimbalinus Pertamina Patra Niaga, Ahad Rahedi, dalam konferensi pers virtual bersama BNPB, Jumat (21/8).
“Pulihnya SPBU adalah nafas bagi mobilitas warga, distribusi bantuan, dan pergerakan ekonomi. Tidak berhenti di situ, jaringan agen subsidi juga telah kembali aktif,” jelasnya.
Selain SPBU, layanan penyaluran energi bersubsidi juga mulai kembali normal. Sebanyak 17 agen minyak tanah bersubsidi dan lima agen LPG telah beroperasi di Pulau Flores.
“Jadi dari sisi layanan kepada masyarakat, seluruh lembaga penyalur Pertamina di Pulau Flores sudah kembali beroperasi dan dapat melayani kebutuhan energi di masyarakat,” ungkapnya.
Pemulihan distribusi energi tersebut dinilai penting karena kebutuhan BBM tidak hanya berkaitan dengan mobilitas warga, tetapi juga mendukung operasional rumah sakit, posko pengungsian, dapur umum serta kendaraan yang digunakan untuk mendistribusikan bantuan.
Kebutuhan energi untuk pembangkit listrik juga dipastikan tetap terpenuhi. Pertamina menyiapkan jalur alternatif untuk mengantisipasi apabila terdapat kendala pada jalur distribusi utama.
“Hal ini juga didukung dengan kebutuhan industri bagi Pembangkit Listrik dimana tidak ada kendala, sudah dapat dipenuhi dan di alternatif rute yang disiapkan. Kemudian juga bagi kebutuhan aviasi atau bahan bakar avtur untuk pesawat udara yang ada di Bandara Komodo di Labuan Bajo,” lanjutnya.
Untuk menjaga ketersediaan stok, Pertamina menerapkan skema darurat dan alih suplai. Dari delapan terminal BBM yang berada di wilayah NTT, tujuh terminal telah beroperasi normal.
Satu terminal yang masih mengalami kendala adalah Fuel Terminal Reo. Namun, kondisi terminal tersebut disebut sudah mendekati tahap operasional kembali setelah menjalani pemeriksaan.
“Pertama, Pertamina mengirimkan BBM dan juga avtur dari alih supply. Pertamina punya alternatif dan juga emergency bahwa dari delapan terminal yang ada dalam wilayah NTT, 7 dapat beroperasi normal, yang terkendala hanya 1 yaitu Fuel Terminal Reo dan ini sudah menjelang beroperasi karena perlu pemeriksaan kembali,” jelasnya.
Pertamina juga membuka jalur pasokan dari wilayah Nusa Tenggara Barat (NTB), khususnya Bima. Mobil tangki dikirim melalui Pelabuhan Sape menuju Labuan Bajo untuk membawa produk BBM dan avtur guna memenuhi kebutuhan masyarakat.
Langkah tersebut dilakukan sebagai bagian dari mitigasi agar gangguan pada satu jalur distribusi tidak menghentikan pasokan energi di wilayah terdampak gempa.
Untuk kebutuhan rumah tangga, Pertamina memastikan ketersediaan LPG pada tingkat agen masih mencukupi. Stok tabung LPG berada pada kisaran 300 hingga 1.000 tabung di setiap agen.
“Stok LPG di tingkat agen dipastikan mencukupi dengan ketersediaan tabung di antara 300-1000 tabung per masing-masing agen dalam kondisi mencukupi kebutuhan energi masyarakat di Pulau Flores,” imbuhnya.
Ke depan, Pertamina tetap menempatkan mitigasi risiko sebagai perhatian utama. Kondisi geologi NTT yang dinamis membuat sistem distribusi energi perlu memiliki jalur alternatif dan cadangan pasokan. “Dengan kondisi geologi NTT yang dinamis, jalur distribusi harus punya opsi cadangan,” ujarnya.
Di Pulau Flores terdapat sejumlah terminal yang menjadi bagian dari sistem distribusi energi, yakni Fuel Terminal Reo, Fuel Terminal Larantuka, Fuel Terminal Ende dan terminal di Maumere.
Keberadaan sejumlah terminal tersebut memungkinkan terjadinya saling dukung pasokan ketika salah satu jalur distribusi mengalami gangguan akibat gempa susulan maupun aktivitas gunung api.
“Ini saling back-up untuk memitigasi jalur-jalur terputus akibat dampak gempa susulan dan juga letusan gunung,” pungkasnya.
Dengan kembali beroperasinya jaringan distribusi energi, kebutuhan dasar masyarakat di Pulau Flores diharapkan dapat terus terpenuhi. Ketersediaan BBM, LPG, minyak tanah bersubsidi hingga avtur juga menjadi bagian penting dalam mempercepat pemulihan pascagempa.***

