Petanttnews.com- Sebanyak 173 satuan pendidikan di Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur (NTT), dilaporkan mengalami kerusakan akibat gempa bumi Flores. Dari jumlah tersebut, 172 merupakan satuan pendidikan dan satu lainnya merupakan perguruan tinggi.
Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga (PPO) Kabupaten Manggarai, Wens Sedan, mengatakan kerusakan tersebut berdampak terhadap puluhan ribu peserta didik.
“Untuk Kabupaten Manggarai tercatat ada 173 sekolah rusak akibat gempa Flores. Di antaranya 172 satuan pendidikan dan satu perguruan tinggi,” jelas Wens Sedan di Kantor BPBD Manggarai Selasa 18 Agustus 2026.
Berdasarkan data Dinas PPO Manggarai, kerusakan tersebut tersebar pada sejumlah jenjang pendidikan.
Pada jenjang PAUD, terdapat 22 satuan pendidikan terdampak dengan jumlah peserta didik sebanyak 1.589 orang. Jenjang SD/MI menjadi kelompok dengan jumlah satuan pendidikan terdampak terbanyak, yakni 90 sekolah. Jumlah peserta didik yang terdampak mencapai 14.612 orang.
Sementara, pada jenjang SMP/MTs terdapat 35 satuan pendidikan dengan 11.319 peserta didik terdampak.
Selanjutnya, pada jenjang SMA tercatat 19 sekolah dengan 10.503 peserta didik terdampak. Kemudian SMK sebanyak enam sekolah dengan jumlah peserta didik terdampak 4.710 orang.
Dengan demikian, total peserta didik yang terdampak berdasarkan data yang telah dilaporkan kepada Dinas PPO Manggarai mencapai 42.733 orang.
Selain satuan pendidikan dasar dan menengah, satu perguruan tinggi juga terdampak, yakni Universitas Katolik Indonesia Santu Paulus Ruteng.
Pembelajaran Beralih ke Rumah
Pasca gempa, Dinas PPO Manggarai mengeluarkan surat kepada seluruh satuan pendidikan agar proses pembelajaran tetap berlangsung dengan menggunakan pendekatan Belajar Dari Rumah (BDR).
Kebijakan tersebut diambil untuk menjaga keberlangsungan pendidikan di tengah kondisi sejumlah sekolah yang terdampak gempa dan belum seluruhnya dapat digunakan untuk kegiatan belajar-mengajar.
Wens menjelaskan, pelaksanaan BDR disesuaikan dengan kondisi masing-masing sekolah dan akses yang dimiliki peserta didik.
Guru dikoordinasikan oleh kepala sekolah untuk menyiapkan tugas pembelajaran bagi siswa. Tugas dapat disampaikan secara langsung apabila sekolah berada di wilayah yang sulit mengakses internet atau peserta didik tidak memiliki telepon seluler berbasis Android.
Sementara bagi sekolah yang memiliki akses internet, pembelajaran dapat dilakukan melalui grup WhatsApp, Google, atau media pembelajaran digital lain yang biasa digunakan oleh sekolah.
“Tugas itu harus diberi batasan waktu dan hasilnya diberi nilai dengan umpan balik kepada peserta didik,” jelas Wens.
Menurut dia, umpan balik kepada siswa harus diberikan dengan pendekatan yang menguatkan. Kondisi psikologis peserta didik menjadi perhatian karena mereka masih menghadapi suasana batin yang tidak stabil akibat bencana.
“Tentu umpan balik itu bersifat menguatkan murid kita karena kita tahu suasana batin mereka sedang labil dan trauma,” katanya.
Siapkan Kelas Darurat
Selain menerapkan pembelajaran dari rumah, Dinas PPO Manggarai juga menyiapkan langkah lain bagi sekolah yang mengalami kerusakan dan belum dapat menyelenggarakan pembelajaran secara normal.
Bagi sekolah yang membutuhkan, pemerintah daerah akan menyiapkan kelas darurat agar proses pembelajaran tetap berjalan.
“Bagi sekolah terdampak akan didirikan kelas darurat. Kelas darurat ini nanti tujuannya pembelajaran tetap berjalan,” ujar Wens.
Ia mengakui kemampuan pemerintah daerah untuk menangani seluruh sekolah yang terdampak gempa masih terbatas. Karena itu, diperlukan koordinasi dan dukungan berbagai pihak agar kegiatan pendidikan tetap berlangsung di tengah kondisi pascabencana.
Langkah tersebut diharapkan dapat memastikan peserta didik tetap memperoleh hak pendidikan, sekaligus memberikan ruang bagi sekolah untuk menyesuaikan proses pembelajaran dengan kondisi di lapangan.
Dinas PPO Manggarai akan terus melakukan pemantauan terhadap kondisi satuan pendidikan dan memperbarui data kerusakan sebagai dasar penanganan selanjutnya. ***

