Petanttnews.com, Ruteng- SMP Negeri 1 Langke Rembong, Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur (NTT), berencana memulai kembali kegiatan belajar mengajar (KBM) secara bertahap pada Rabu, 2 September 2026.
SMPN 1 Langke Rembong merupakan salah satu sekolah negeri yang terletak di jantung kota Kabupaten Manggarai yang menjadi terdampak, imbas gempa bumi Flores, Sabtu 15 Agustus 2026.
KBM pascagempa tersebut akan dilaksanakan di kelas darurat menggunakan sembilan tenda yang disiapkan untuk 31 rombongan belajar (rombel) dengan total sekitar 1.045 siswa.
Kepala SMP Negeri 1 Langke Rembong, mengatakan dimulainya kembali kegiatan pembelajaran merupakan tindak lanjut instruksi Bupati Manggarai melalui Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga (PPO).
“Khusus untuk SMP Negeri 1 Langke Rembong, kami menindaklanjuti instruksi Pak Bupati untuk segera perlahan-lahan kita mulai aktif kembali untuk kegiatan pembelajaran ya,” kata Adrianus Ndiri Lirik, S.Fil, diruangan kerjanya, Selasa, (01/09/26) pagi.
Baca Juga: Gubernur NTT Lantik Sekda Frans Sodo di Tengah Gempa
Menurut Adrianus, kegiatan belajar mengajar (KBM) di kelas darurat menerapkan sistem shift karena keterbatasan tenda dan kondisi sekolah yang masih terdampak gempa.
Menurutnya setiap tingkat, mulai dari kelas VII, VIII, dan IX, akan mengikuti pembelajaran tatap muka selama dua hari dalam satu pekan.
“Dan teknis untuk kegiatan pembelajaran itu adalah menggunakan shift ya. Untuk satu tingkat, katakanlah kelas VII, selama satu pekan itu mereka akan tatap muka di sekolah itu selama dua hari. Begitu juga dengan kelas VIII dan kelas IX. Jadi sembilan tenda itu akan digunakan oleh masing-masing tingkat selama satu pekan,” jelas Adrianus.
Adrianus merinci, jumlah siswa kelas VII sebanyak 352 orang. Jumlah yang sama juga terdapat pada kelas VIII, sedangkan kelas IX berjumlah 341 siswa. “Sehingga kami kurang lebih melayani anak-anak di sini sekitar 1.045 ya, kurang lebih seperti itu,” katanya.
Pelaksanaan KBM kata Adrianus, tidak menggunakan jadwal seperti dalam situasi normal. Pihak sekolah melakukan revisi jadwal untuk menyesuaikan dengan kondisi pembelajaran di kelas darurat.
Kegiatan pembelajaran dimulai pukul 07.30 WITA dan berakhir pukul 12.15 WITA. Sebelum masuk ke materi pelajaran, siswa akan mengikuti kegiatan trauma healing selama sekitar 30 menit.
“Jam pembelajarannya itu mulai jam 07.30, kami memulainya dengan kegiatan trauma healing untuk anak-anak kurang lebih setengah jam, setelah itu kegiatan pembelajaran, dan selesainya jam 12.15,” ujarnya.
Kegiatan trauma healing diberikan kepada seluruh siswa kelas VII, VIII, dan IX. Materi disiapkan oleh guru Bimbingan dan Konseling (BK), kemudian diserahkan kepada guru mata pelajaran yang mengajar pada jam pertama.
“Untuk trauma healing itu kami berikan kepercayaan kepada teman-teman guru BK. Mereka menyiapkan materi dan nanti itu diserahkan ke masing-masing guru pengampu mapel. Jadi teman-teman yang mengampu mata pelajaran di jam pertama, setengah jam pertamanya itu mereka gunakan itu untuk trauma healing,” sambung Adrianus.
Untuk mendukung pelaksanaan KBM di tenda darurat, SMP Negeri 1 Langke Rembong mendapat bantuan satu tenda dari Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) serta tiga tenda dari Kwartir Cabang (Kwarcab) Pramuka Kabupaten Manggarai.
Baca Juga: Pemkab Manggarai Siapkan Kelas Darurat Imbas gempa
Sementara lima tenda lainnya dibuat secara mandiri oleh pihak sekolah melalui gotong royong para guru. “Untuk tenda darurat, satu itu dari Kemendikdasmen. Jadi kami ucapkan terima kasih kepada Kementerian Pendidikan dan juga kepada Pemerintah Daerah Kabupaten Manggarai yang sudah memberikan kami satu tenda darurat. Kemudian ada tiga tenda darurat dari Pramuka, dari Kwarcab,” ungkapnya.
Lima tenda mandiri tersebut katanya, dikerjakan oleh para guru. Pihak sekolah sebelumnya berencana melibatkan orang tua siswa, tetapi rencana tersebut tidak dilakukan karena mempertimbangkan kondisi orang tua yang juga terdampak gempa.
“Dikerjakan oleh Bapak, Ibu guru. Kami kemarin dalam rencana mau mengundang orang tua murid, tapi saya pikir terlalu apa, mepet waktunya untuk kami mengundang. Kemudian juga mungkin nanti ini menyibukkan orang tua, sementara orang tua sendiri mungkin di rumah juga mereka sedang mengurus rumah yang terkena bencana atau terdampak, atau juga mungkin mereka sendiri sedang di pengungsian,” pungkasnya.
Selain menyiapkan tenda, sekolah juga melakukan penyesuaian terhadap materi pembelajaran dan tata ruang kelas agar KBM tetap berjalan dalam kondisi masa tanggap darurat.
Dengan skema tersebut, SMP Negeri 1 Langke Rembong bersiap kembali melaksanakan KBM secara bertahap mulai Rabu, 2 September 2026, sembari menyesuaikan proses pembelajaran dengan kondisi pascagempa Flores.***

