Puskesmas Kota Banyak Tangani Pasien ISPA Pascagempa

Foto: Dokter Margaretha Irmana Baung, Kepala Puskesmas Kota Ruteng. (Aristo/Petanttnews. com)

Petanttnews.com, Ruteng- Puskesmas Kota (Puskot) Ruteng mencatat banyak warga terdampak gempa bumi mengalami keluhan infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), terutama warga yang masih bertahan di posko pengungsian mandiri.

Keluhan yang paling banyak ditemukan meliputi sesak napas, batuk, pilek, dan demam. Anak-anak, terutama bayi dan balita, menjadi kelompok yang paling banyak mengalami gangguan kesehatan tersebut.

Baca Juga: SMP Negeri 1 Langke Rembong Fokus Pulihkan Trauma Siswa

Dokter Puskesmas Kota Ruteng, mengatakan keluhan gangguan pernapasan banyak ditemukan ketika tim medis memberikan pelayanan langsung ke sejumlah posko mandiri di wilayah kerja Puskesmas Kota Ruteng.

“Posko-posko mandiri itu yang dengan keluhan sesak napas, terus batuk pilek dengan demam. Bayi dan balita paling banyak, menyusul ibu lanjut usia (Lansia),” kata Dokter Margaretha Irmana Baung, saat ditemui di Puskesmas Kota Ruteng, Selasa, 1 September 2026.

Menurutnya, kondisi warga yang tinggal di tenda pengungsian turut memicu gangguan pernapasan. Debu dari reruntuhan bangunan serta suhu udara yang dingin pada malam hari menjadi salah satu faktor yang memperburuk kondisi tersebut.

“ISPA disebabkan oleh debu reruntuhan bangunan serta suhu udara yang sangat dingin di tenda pengungsian pada malam hari,” sambungnya.

Bahkan, Puskesmas Kota Ruteng sempat merujuk seorang anak berusia dua tahun yang mengalami sesak napas berat.

“Bahkan kita ada rujuk satu pasien itu karena dia dengan sesak berat, anak umur 2 tahun,” sambung.

Selain menangani pasien ISPA, petugas Puskesmas Kota Ruteng juga memberikan pelayanan kepada warga yang mengalami luka akibat gempa.

Pada hari pertama pascagempa, sebanyak tujuh pasien mendapat penanganan. Enam pasien mengalami luka ringan, sedangkan satu pasien mengalami luka berat.

“Hari pertama pasca gempa ada tujuh pasien yang mengalami luka-luka. satu luka berat dan enam luka ringan,” kata Margaretha. “Ketujuh pasien tersebut ditangani di Puskesmas Kota dan selanjutnya menjalani rawat jalan,” tambahnya.

Baca Juga: SMPN 1 Langke Rembong KBM di Kelas Darurat Pascagempa

Namun, setelah penanganan korban luka pada hari pertama, kunjungan warga dari posko pengungsian justru menjadi salah satu pelayanan yang banyak ditangani petugas.

“Jumlah kunjungan lebih banyak malah setelah gempa. Setelah setelah gempa itu lebih banyak dengan yang itu tadi, traumatik, lalu ada kunjungan rujukan-rujukan dari posko pengungsian itu yang dengan sesak, ISPA, sesak,” ujarnya.

Margaretha menjelaskan, lonjakan pasien pada hari pertama pascagempa juga terjadi karena sebagian pelayanan poliklinik RSUD Ruteng sempat dialihkan ke Puskesmas Kota Ruteng. Setelah rumah sakit lapangan beroperasi, pelayanan tersebut kembali dipindahkan ke rumah sakit lapangan.

Untuk sementara, pelayanan Puskesmas Kota Ruteng dilakukan di tenda darurat karena kondisi gedung mengalami kerusakan akibat gempa.

“Untuk pelayanan puskesmas kota saat ini masih diruangan tenda darurat. Termasuk pelayanan Ibu hamil,” tegasnya.

Gedung Puskesmas Retak

Di sisi lain, gedung Puskesmas Kota Ruteng mengalami sejumlah kerusakan akibat gempa. Beberapa ruangan mengalami retakan pada bagian dalam dan luar bangunan.

Atap ruang poli gigi juga mengalami kerusakan dan nyaris roboh. Kondisi bangunan tersebut telah diperiksa oleh Dinas PUPR. Namun, Puskesmas masih menunggu hasil penilaian resmi untuk mengetahui tingkat kerusakannya.

“Ya, keadaan gedung Puskesmas kita ada retak. Ada beberapa ruangan yang retak. Retak sambung ya istilahnya. Maksudnya dia dalam, luar sama. Terus ada atap di poli gigi itu sudah hampir turun dia,” kata Margaretha.

“Sudah dapat penilaian PUPR, sudah didatangi oleh PUPR, sudah dinilai, cuma kita belum dapat dia punya hasil penilaiannya, apakah ini hijau, kuning, atau merah,” lanjutnya.

Untuk sementara, sebagian besar pelayanan dilakukan di tenda darurat. Aktivitas di dalam gedung dibatasi, kecuali pelayanan apotek yang tidak terdampak.

Puskesmas Kota Ruteng melayani sekitar 38.947 jiwa di wilayah kerjanya dengan dukungan 142 tenaga kesehatan.

Di tengah kondisi pascagempa, tenaga kesehatan terus mempertahankan pelayanan dengan menyesuaikan sistem kerja dan mendatangi warga secara langsung ke posko-posko pengungsian. “Kita mencoba bersahabat dengan keadaan yang ada sih sebenarnya,” pungkas Margaretha.***