BBKSDA NTT Tutup Sementara Pendakian Gunung Ranaka

Petanttnews.com, Ruteng- Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Nusa Tenggara Timur menutup sementara kunjungan wisata alam dan kegiatan pendakian Gunung Ranaka di kawasan Taman Wisata Alam (TWA) Ruteng, Kabupaten Manggarai.

 

Penutupan tersebut dilakukan menyusul peningkatan aktivitas kegempaan Gunung api Anak Ranakah setelah Gempa Flores berkekuatan M7,7 pada 15 Agustus 2026.

Baca Juga: Kapolres Levi Rangkul Anak Korban Gempa, Pulihkan Semangat Lewat Trauma Healing

Dalam pengumuman BBKSDA NTT tertanggal 2 September 2026, peningkatan aktivitas ditandai dengan bertambahnya kejadian gempa tektonik lokal, tektonik jauh, dan gempa vulkanik dalam.

Berdasarkan hasil pengamatan selama 1–31 Agustus 2026, tercatat 367 kali Gempa Vulkanik Dalam, 3.272 kali Gempa Tektonik Lokal, 2.776 kali Gempa Tektonik Jauh, serta 218 kali Gempa Terasa dengan skala II hingga VII MMI.

Kepala BBKSDA NTT, Adhi Nurul Hadi, mengatakan penutupan dilakukan sebagai langkah mitigasi untuk menjamin keselamatan pengunjung, pendaki, masyarakat, dan petugas.

“Penutupan sementara dilakukan sebagai langkah mitigasi dalam rangka menjamin keselamatan dan keamanan pengunjung serta masyarakat di kawasan TWA Ruteng, khususnya di sekitar Gunung api Anak Ranakah,” demikian Pengumuman BBKSDA NTT.

Penutupan berlaku sampai ada pemberitahuan lebih lanjut dengan mempertimbangkan perkembangan aktivitas Gunung api Anak Ranakah serta hasil evaluasi kondisi keamanan kawasan.

BBKSDA NTT juga meminta pengunjung, pendaki, wisatawan, masyarakat maupun pihak lainnya tidak memasuki dan melakukan aktivitas dalam radius satu kilometer dari pusat aktivitas Gunung api Anak Ranakah, sesuai rekomendasi Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG).

Baca Juga: Sekjen PKS Dijadwalkan Kunjungi Wilayah Terdampak Gempa

Masyarakat dan wisatawan diminta tetap tenang, meningkatkan kewaspadaan, serta mengikuti arahan dan informasi resmi pemerintah maupun instansi terkait.

Perkembangan aktivitas Gunung api Anak Ranakah dan rekomendasi teknis dapat dipantau melalui PVMBG, Badan Geologi, aplikasi atau situs Magma Indonesia, serta kanal informasi resmi BBKSDA NTT.***