Petanttnews.com, Manggarai- Pendakian Poco Likang di kawasan Taman Wisata Alam (TWA) Ruteng, kembali dibuka setelah sempat ditutup sementara akibat gempa bumi yang mengguncang Pulau Flores dan sekitarnya. Sehari setelah gempa bumi, BBKSDA menutup pendakian ke Poco Likang.
Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Nusa Tenggara Timur (BBKSDA NTT) membuka kembali kunjungan wisata alam di TWA Ruteng, mulai 30 Agustus 2026.
Keputusan tersebut diambil setelah BBKSDA NTT mempertimbangkan perkembangan kondisi kegempaan, hasil penilaian terhadap fasilitas pendukung kegiatan wisata alam, serta kesiapan sumber daya manusia dalam memberikan pelayanan kepada pengunjung.
“Dengan mempertimbangkan perkembangan kondisi kegempaan, hasil assessment fasilitas pendukung dan kesiapan sumber daya manusia, serta dalam rangka mendukung pemulihan aktivitas masyarakat dan stabilitas penghasilan masyarakat sekitar kawasan konservasi, kunjungan wisata alam di TWA Ruteng, TWA 17 Pulau, dan TWA Gugus Pulau Teluk Maumere dibuka kembali mulai tanggal 30 Agustus 2026.” jelas Adhi Nurul Hadi, kepala BBKSDA NTT, dalam isi pengumuman pembukaan kembali TWA Ruteng.
BBKSDA NTT menyebut keputusan tersebut juga berdasarkan hasil pemantauan aktivitas kegempaan dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). Tren intensitas gempa susulan di Pulau Flores dan sekitarnya mulai menunjukkan penurunan.
Meski kembali dibuka, pengunjung tetap diminta menerapkan prinsip kehati-hatian selama berada di kawasan wisata.
“Pembukaan kembali kunjungan wisata alam dilaksanakan dengan tetap menerapkan prinsip kehati-hatian dan memperhatikan kondisi pascabencana gempa bumi,” jelasnya.
“Dilakukan pembatasan sementara jumlah pengunjung sebanyak 50 (lima puluh) orang per hari, yang terdiri atas 25 (dua puluh lima) wisatawan mancanegara dan 25 (dua puluh lima) wisatawan nusantara, serta pembatasan terhadap pengunjung rentan, meliputi penyandang disabilitas, lanjut usia (lansia), dan pengunjung yang membutuhkan bantuan khusus,” sambungnya.
Pengunjung juga diwajibkan tetap waspada terhadap potensi gempa susulan dan menghindari kawasan yang berpotensi rawan bencana.
“Pengunjung wajib tetap waspada terhadap potensi terjadinya gempa susulan dan menghindari areal yang berpotensi rawan bencana, antara lain tebing, lereng curam, bangunan yang mengalami kerusakan, serta areal yang terdapat retakan tanah.” jelasnya.
Selain itu, pengunjung wajib memperhatikan tanda-tanda daerah rawan bencana, titik kumpul, dan jalur evakuasi serta mematuhi seluruh arahan petugas di lapangan.
BBKSDA NTT menegaskan pembukaan kembali wisata alam tersebut merupakan bagian dari pemulihan secara bertahap dengan tetap mengutamakan keselamatan.
“Pembukaan kembali kunjungan wisata alam ini merupakan bagian dari upaya pemulihan secara bertahap dengan tetap mengutamakan keselamatan pengunjung, petugas, masyarakat, serta kelestarian kawasan konservasi. Kondisi dan perkembangan aktivitas kegempaan serta situasi di lapangan akan terus dipantau dan dievaluasi, ujarnya.
BBKSDA NTT juga membuka kemungkinan melakukan pembatasan atau penutupan kembali apabila kondisi dinilai membahayakan keselamatan pengunjung.
“Apabila terjadi perkembangan kondisi yang berpotensi membahayakan keselamatan, BBKSDA NTT dapat melakukan pembatasan, penyesuaian, atau penghentian sementara kegiatan kunjungan wisata alam berdasarkan hasil pemantauan dan rekomendasi dari instansi yang berwenang,” pungkasnya. ***

