Pascagempa, SMK Sadar Wisata Ruteng Benahi Ruang Belajar

Petanttnews.com, Ruteng- Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Sadar Wisata Ruteng, Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur, memilih membenahi ruang belajar sebagai langkah persiapan untuk kembali melaksanakan kegiatan belajar mengajar setelah gempa bumi mengguncang wilayah Flores pada 15 Agustus 2026.

Kepala SMK Sadar Wisata Ruteng, Wilhelmus Bastian, mengatakan sekolah belum menerapkan kelas darurat karena jumlah siswa yang cukup banyak sehingga halaman sekolah tidak memungkinkan untuk menampung seluruh siswa.

“Kami belum buat kelas darurat. Karena jumlah siswa kita dalam jumlah yang cukup banyak, sehingga kita memang kalau dibuat kelas darurat halaman kita tidak bisa menampung,” kata Wilhelmus saat ditemui di sekolah saat mengawasi perbaiki ruangan kelas yang rusak, Selasa (08/09/2026).

Baca Juga: PP PMKRI Salurkan Bantuan Korban Gempa

Sebagai gantinya, pihak sekolah memprioritaskan perbaikan ruang kelas yang terdampak gempa agar proses pembelajaran dapat kembali berlangsung.

“Upaya yang kita lakukan adalah segera memperbaiki kelas, sehingga nanti dengan perbaikan kelas, berarti kita akan segera bisa memulai kegiatan proses belajar mengajar, begitu,” ujarnya.

SMK Sadar Wisata Ruteng saat ini memiliki 2.480 siswa yang terbagi dalam 72 rombongan belajar. Dari jumlah tersebut, 11 kelas sedang mengikuti Praktik Kerja Lapangan (PKL) di Labuan Bajo, Bali, dan Lombok.

Wilhelmus memastikan tidak ada siswa SMK Sadar Wisata yang menjadi korban akibat gempa. Begitu pula siswa yang sedang menjalani PKL di luar daerah. “Kalau di sekolah tidak ada, begitu juga dengan mereka yang pergi mengikuti PKL, jelasnya.

Ketika ditanya mengenai kondisi siswa yang sedang berada di tempat PKL, Wilhelmus menjawab, “Sejauh ini tidak ada.” pungkasnya.

20 Ruang Kelas Belum Dapat Digunakan

Dampak gempa membuat sekitar 20 ruang kelas di SMK Sadar Wisata Ruteng belum dapat digunakan untuk kegiatan belajar mengajar.

“Yang sama sekali tidak dipakai itu di bawah itu ada 10, kemudian di sini ada 6, kemudian di belakang ada 4. Kurang lebih itu sudah dulu,” kata Wilhelmus.

Saat dikonfirmasi jumlah ruang yang terdampak, ia mengatakan, “Ya, 20an ruang kelas yang belum bisa dipakai.” ungkapnya.

Kondisi ruang-ruang tersebut telah dipantau oleh Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah serta Dinas Pendidikan Provinsi NTT.

“Dari Kementerian sudah, dari Dinas Pendidikan Provinsi sudah. Sudah dipantau semua, ya,” ujarnya.

Namun, sekolah masih menunggu kepastian terkait bantuan pemerintah untuk perbaikan ruang kelas. “Kita belum tahu pasti. Ya, kita belum tahu pasti apa ada bantuan atau tidak. Sampai sejauh ini belum ada informasi,” katanya.

Untuk sementara, perbaikan ringan dilakukan menggunakan dana yayasan. “Sementara kita gunakan dana yayasan,” kata Wilhelmus.

Trauma Healing Menyusul

Terkait trauma healing bagi siswa, pihak sekolah akan memikirkan program tersebut setelah kegiatan belajar mengajar kembali berjalan.

Wilhelmus mengatakan saat ini sekolah masih berkonsentrasi menyiapkan ruang belajar agar siswa dapat kembali mengikuti pembelajaran dalam kondisi aman dan nyaman.

“Kita memang masuk konsentrasi pada perbaikan ruang kelas dulu, supaya bis proses kegiatan belajar mengajar ini bisa berjalan. Sehingga kalau nanti anak-anak sudah dikumpulkan di di sekolah, nanti baru kita baru kita berpikir tentang trauma healing ini,” katanya.

“Ya, jadi kita konsentrasinya lebih pada bagaimana menyiapkan KBM itu dulu. Ya, kegiatan belajar mengajar,” lanjutnya.

Baca Juga: BBKSDA NTT Tutup Sementara Pendakian Gunung Ranaka

Sekolah juga belum menentukan kapan kegiatan belajar mengajar akan kembali dimulai. Keputusan tersebut akan diambil setelah kondisi ruang kelas dinilai siap dan nyaman serta situasi gempa susulan dinilai aman.

“Saya belum bisa memutuskan kita liburnya sampai kapan, tapi pada prinsipnya kalau  seluruh ruangan untuk proses belajar mengajar sudah dalam kondisi siap dan nyaman, itu yang paling penting, nyaman. Maka kita akan segera memutuskan untuk segera mulai sekolah,” ujarnya.

“Terutamanya yang kedua, menunggu kalau tidak ada gempa susulan lagi. Ya, kalau betul-betul kondisi gempa susulan sudah tidak ada, maka kita berani untuk memutuskan untuk mulai kegiatan proses belajar mengajar, ya,” pungkas Wilhelmus.***