Puskesmas Lao Layani Pasien di Tenda Pascagempa

Foto: Puskesmas Lao melayani pasien di tenda darurat BNPB pasca gempa bumi. (Aristo/Petanttnews. com)

Petanttnews.com, Ruteng– Pelayanan kesehatan di Puskesmas Lao, Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur, masih berlangsung di tenda darurat setelah tiga gedung fasilitas kesehatan tersebut tidak dapat digunakan pascagempa bumi yang mengguncang wilayah Flores pada 15 Agustus 2026.

Kepala Puskesmas Lao, Eduard Keluman, mengatakan tiga gedung yang tidak dapat digunakan tersebut masing-masing gedung laboratorium, ruang persalinan, dan gedung gizi.

“Ada tiga gedung kami punya yang tidak bisa digunakan. Gedung pertama itu laboratorium. Gedung yang kedua ruangan persalinan. Kemudian yang ketiga gedung Gizi,” kata Eduard saat ditemui di Puskesmas Lao, Selasa (8/9/2026).

Menurut dia, ketiga bangunan tersebut telah mendapat rekomendasi untuk tidak digunakan setelah mendapat kunjungan tim kementerian. “Rekomendasinya tidak bisa digunakan sama sekali,” ujarnya.

Kondisi tersebut membuat sejumlah pelayanan kesehatan harus dilakukan di tenda darurat, termasuk pelayanan persalinan.

“Kami gunakan tenda darurat BNPB, termasuk pelayanan pasien persalinan,” katanya.

Meski pelayanan dilakukan di tenda, proses persalinan sejauh ini berjalan tanpa hambatan berarti. Petugas juga harus beradaptasi dengan kondisi pelayanan yang sebelumnya dilakukan di dalam ruangan.

“Sejauh ini tidak ada hambatan dalam pelayanan. Hanya memang perlu adaptasi karena sebelumnya dalam ruangan, sekarang di tenda,” ujarnya.

Baca Juga: Kapolres Levi Rangkul Anak Korban Gempa, Pulihkan Semangat Lewat Trauma Healing

Kendati demikian, Puskesmas Lao masih membutuhkan alat penghangat bayi untuk mendukung pelayanan persalinan di tenda.

“Hanya memang kami butuh alat penghangat bayi itu, kita belum belum punya,” katanya.

Tangani Pasien Patah Tulang

Selain memberikan pelayanan rutin, Puskesmas Lao juga menangani warga yang mengalami cedera akibat gempa. Salah satunya pasien patah tulang yang ditemukan petugas saat melakukan kunjungan ke rumah.

Eduard mengatakan pasien tersebut langsung dirujuk untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut di rumah sakit. “Ada satu pasien patah tulang dan sudah dirujuk RSUD Ruteng untuk dioperasi,” jelasnya.

Selain kasus patah tulang, petugas juga menemukan sejumlah warga yang mengalami cedera ringan, seperti luka lecet, dan mendapatkan pelayanan kesehatan.

ISPA Masih Dominasi Keluhan

Sementara itu, Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) menjadi salah satu keluhan yang banyak ditemukan setelah gempa. Keluhan tersebut terutama dialami anak-anak pada pekan pertama.

“Anak-anak, dan orang tua. Kebanyakan anak-anak yang awal-awal kemarin itu. Satu minggu pertama itu anak-anak,” katanya.

Eduard mengatakan ISPA merupakan salah satu penyakit yang memang banyak ditemukan di wilayah pelayanan Puskesmas Lao dari tahun ke tahun.

“Kalau ISPA memang penyakit terbanyak untuk di Puskesmas. Itu salah satu penyakit terbanyak dari tahun ke tahun juga. Sepertinya bukan hanya karena gempa ini juga,” ujarnya.

Namun Menurut dia, pascagempa fakto perubahan cuaca dan debu juga menjadi faktor yang dapat memicu ISPA.

“Paling pascagempa, karena cuaca juga memang ISPA yang paling banyak ini. Apalagi mengungsi di posko mandiri,” katanya.

Meski demikian, Eduard memastikan tidak terjadi lonjakan signifikan jumlah pasien setelah gempa. “Tidak ada lonjakan” ujarnya.

Untuk menangani pasien ISPA, petugas memberikan pelayanan medis seperti biasa, termasuk pemberian obat dan edukasi kepada pasien.

“Iya, penanganan medis seperti biasa, penanganan medis pemberian obat-obatan. Edukasi yang paling banyak,” pungkasnya.

Pelayanan ODGJ Tetap Berjalan

Pelayanan terhadap Orang dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) juga tetap dilakukan Puskesmas Lao melalui kunjungan rumah.

Eduard menjelaskan, kunjungan tersebut bukan program khusus pascagempa, melainkan pelayanan rutin yang telah dilakukan sebelum gempa dan tetap dilanjutkan setelah bencana. “Kunjungan rumah wajib itu setiap bulan,” katanya.

Petugas mendatangi rumah pasien ODGJ maupun penyandang disabilitas untuk memastikan kondisi mereka tetap terpantau, termasuk memberikan obat. “Antar dari rumah ke rumah, Pak,” ujarnya.

Tenda Baru Bantu Pelayanan

Sebelum mendapatkan tenda yang digunakan saat ini, petugas Puskesmas Lao sempat menjalankan pelayanan menggunakan tenda kecil dan terpal secara mandiri. Kondisi tersebut cukup menyulitkan petugas karena suhu di dalam tenda berubah drastis antara siang dan malam.

Kondisi pelayanan kemudian lebih terbantu setelah Puskesmas Lao mendapatkan tenda yang lebih layak dari BNPB. “Tapi setelah ada ini, ya sangat terbantu. Ini aman sudah,” katanya.

Tenda tersebut baru digunakan sekitar dua hari ketika wawancara berlangsung. “Baru dua hari digunakan,” ujarnya.

Baca Juga: BBKSDA NTT Tutup Sementara Pendakian Gunung Ranaka

Di tengah keterbatasan fasilitas, stok obat-obatan Puskesmas Lao masih aman. Bantuan obat dan vitamin juga telah diterima dari sejumlah pihak.

“Masih aman. Apalagi banyak juga obat-obat bantuan juga obat vitamin,” katanya.

Meski fasilitas utama belum seluruhnya dapat digunakan, tenaga kesehatan Puskesmas Lao tetap menjalankan pelayanan kepada masyarakat terdampak “Memang di saat bencana, kami garis terdepan,” tegas Eduard.***