Petanttnews.com, Ruteng- SMA Negeri 1 Langke Rembong, Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur, NTT, menerapkan sistem pembelajaran bergilir bagi siswa kelas X dan XI selama masa tanggap darurat pascagempa bumi Flores.
Kebijakan tersebut diterapkan karena keterbatasan ruang kelas yang dapat digunakan setelah gempa. Sementara itu, siswa kelas XII tetap mengikuti pembelajaran pada shift pagi setiap hari.
Baca Juga: Sempat Ditutup, Pendakian Poco Likang Dibuka Kembali Pascagempa
Kebijakan tersebut merespon himbauan Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur, agar SMA, SMK, SLB melakukan kegiatan belajar (KBM) dengan terbatas.
SMAN 1 Langke Rembong adalah salah satu sekolah terdampak pascagempa yang berlokasi dipusat kota Ruteng kabupaten Manggarai.
Kepala SMAN 1 Langke Rembong, mengatakan siswa kelas X dan XI mengikuti pembelajaran secara bergantian pada shift siang.
“Senin, Rabu, Jumat itu untuk kelas 10. Lalu Selasa, Kamis, Sabtu kelas 11. Minggu berikut dibalik,” kata Kalixtus Kase kepala sekolah SMAN 1 Langke Rembong, saat ditemui di ruangannya, Senin (7/9/2026).
Menurut dia, pola tersebut dirancang agar seluruh siswa tetap mendapatkan pembelajaran secara penuh dalam siklus dua minggu.
“Sehingga untuk dua minggu, keseluruhan jadwal dia dapat. Karena kalau dia Senin, Rabu, Jumat minggu ini, nanti minggu depan dia Selasa, Kamis, Sabtu,” ujarnya.
Kalixtus menjelaskan, pembelajaran selama masa tanggap darurat juga berlangsung dengan durasi lebih singkat. Jika dalam kondisi normal satu jam pelajaran berlangsung 45 menit, kini dipangkas menjadi 30 menit.
“Ya, kita tidak bisa berharap lebih. Itu pun hanya durasinya dari 45 menit jadi 30, tapi namanya semuanya kondisi darurat,” katanya.
Sebelumnya, sejak pascagempa hingga 28 Agustus 2026, sekolah menerapkan pembelajaran dari rumah. Pembelajaran tatap muka kemudian dilakukan secara bertahap mulai 31 Agustus, dengan kelas XII menjadi kelompok pertama yang kembali ke sekolah.
Kalixtus mengatakan sekolah juga memberikan perhatian terhadap kondisi psikologis siswa melalui trauma healing.
“Untuk kelas 12 yang sudah masuk, kita sudah buat trauma healing,” katanya.
Trauma healing tersebut dilakukan oleh guru Bimbingan dan Konseling (BK) secara internal. Sementara siswa kelas X dan XI baru mulai masuk secara bergilir pada Senin (7/9/2026).
“Untuk kelas 10 dan 11 belum. Trauma healing maupun siaga bencananya juga belum, karena mereka sore ini baru masuk,” ujarnya.
Selain siswa, kondisi psikologis guru juga menjadi perhatian sekolah. Menurut Kalixtus, para guru juga merupakan bagian dari masyarakat yang terdampak gempa sehingga sekolah tidak memaksakan guru yang belum merasa aman untuk kembali bekerja.
“Kalau ada yang belum aman, biar dulu di rumah. Tapi dia harus jujur juga,” katanya.
Ia mengatakan kondisi pascagempa membuat proses pembelajaran harus disesuaikan dengan kondisi psikologis warga sekolah.
“Kita bersyukur mereka masih sehat, mereka juga masih datang tanpa cemas. Karena kalau mereka cemas, mereka belajar dalam kecemasan ini,” ujarnya.
Selain pembelajaran, sekolah juga telah melakukan simulasi jalur evakuasi. SMAN 1 Langke Rembong merupakan satuan pendidikan yang telah mendapatkan pelatihan terkait sekolah aman bencana.
“Kita sudah buat simulasi untuk jalur evakuasi. Kebetulan sekolah ini Sekolah Satuan Pendidikan Aman Bencana,” kata Kalixtus.
Terkait kondisi bangunan, Kalixtus mengatakan sejumlah ruang kelas di lantai satu masih dapat digunakan berdasarkan pengamatan secara kasat mata. Namun, lantai dua belum digunakan karena mempertimbangkan aspek keselamatan, termasuk keterbatasan titik kumpul evakuasi.
“Kalau yang rawan itu dua ruangan, tapi bukan ruang kelas. Ruang BK dengan ruang lab,” jelasnya.
Ia menegaskan, pengamatan yang dilakukan pihak sekolah belum merupakan pemeriksaan teknis terhadap struktur bangunan.
“Kalau ilmu tekniknya kan belum, ada alatnya. Kalau audit forensik kan kita tidak tahu. Tapi dari kasat mata kita lihat, karena yang kita lihat ini strukturnya. Karena struktur ini yang penting, kolom baloknya,” katanya.
SMAN 1 Langke Rembong saat ini memiliki 1.184 siswa serta 77 guru dan pegawai. Berdasarkan pendataan awal, sebanyak 118 siswa tercatat terdampak gempa berdasarkan kondisi rumah mereka. “Anak murid yang terdampak itu ada 118 orang,” ungkap Kalixtus.
Baca Juga: Kapolres Levi Rangkul Anak Korban Gempa, Pulihkan Semangat Lewat Trauma Healing
Sementara dari kalangan guru, terdapat satu rumah guru yang dilaporkan roboh akibat gempa. Sekolah juga telah menghimpun data warga sekolah yang terdampak untuk menjadi dasar penanganan lebih lanjut.
Kalixtus berharap proses pembelajaran selama masa tanggap darurat tetap berjalan dengan memperhatikan keselamatan dan kondisi psikologis siswa maupun guru.
“Namanya semuanya kondisi darurat. Kita bersyukur mereka masih sehat,” pungkasnya.***

