Petanttnews.com, Ruteng- Rangkaian upacara adat Congko Lokap rumah adat (Mbaru gendang) Ngkaer, Kecamatan Satarmese, Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur, (NTT), telah berlangsung selama tiga hari penuh, 8 hingga 10 September 2026 lalu.
Kegiatan tersebut dihadiri seluruh warga Desa Ngkaer, termasuk unsur pemerintah desa serta berbagai unsur masyarakat yang terlibat dalam rangkaian acara adat.
Kehadiran warga terlihat khas dengan balutan pakaian berwarna putih yang dipadukan dengan kain Songke Todo. Pakaian adat tersebut tidak hanya menjadi bagian dari identitas budaya, tetapi juga dimaknai sebagai simbol kejernihan hati dalam mengikuti seluruh rangkaian acara.
Dua hari pertama, 8 dan 9 September 2026, diisi dengan pertunjukan Caci. Sementara itu, puncak rangkaian Congko Lokap dilaksanakan pada 10 September 2026.
Bagi masyarakat desa Ngkaer, Congko Lokap tidak sekadar menjadi penanda selesainya pembangunan sebuah rumah adat. Tradisi ini menjadi ruang untuk mengingat kembali nilai adat, persaudaraan, kehidupan bermasyarakat, dan tanggung jawab menjaga warisan leluhur.
Tokoh adat Gendang Ngkaer, Ambrosius Garung, mengatakan makna Congko Lokap berkaitan dengan kehidupan masyarakat, baik saat ini maupun generasi yang akan datang.
“Makna dari Congko Lokap ini adalah untuk kehidupan kita, baik hari ini maupun generasinya ke depan. Supaya dia sehat lahir batin, secara ekonomi dia sehat, secara fisik dia sehat, secara mental dia sehat, dan intinya sehat lahir dan batin,” kata Ambrosius Garung, Kamis 10 September 2026, usai kegiatan congko lokap berlangsung.
Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa Congko Lokap memiliki makna yang lebih luas dari sekadar sebuah acara adat. Di dalamnya terdapat harapan agar kehidupan warga tetap berjalan baik, tidak hanya secara fisik dan ekonomi, tetapi juga secara sosial dan mental.
Ambrosius menjelaskan, rangkaian Congko Lokap juga berkaitan dengan sejumlah ritus adat yang telah dilakukan sebelumnya. Salah satunya adalah reke.
“Kegiatan hari ini merupakan ending dari kegiatan sebelumnya. Pertama, ada yang namanya istilah adat reke. Artinya ungkapan warga kepada leluhur untuk melaksanakan kegiatan ini,” ungkapnya.
Dalam pelaksanaannya, reke dilakukan melalui persembahan adat berupa ayam dan melibatkan seluruh unsur masyarakat kampung, termasuk Anak Wina dan Anak Rona.
“Semua unsur ini harus hadir lengkap. Kemudian itu disampaikan oleh juru bicaranya yang namanya Tongka Teni,” jelasnya.
Kata Ambrosius, Congko Lokap juga memiliki kaitan erat dengan perilaku masyarakat dalam kehidupan sehari-hari.
“Congko Lokap ini mengarah kepada perilaku yang baik menurut adat. Baik dalam hal hidup bertetangga, bermasyarakat. Senantiasa tidak bertentangan dengan adat. Dan juga tidak bertentangan dengan hukum,” ujarnya.
Pandangan tersebut menjadi salah satu pesan penting dalam pelaksanaan Congko Lokap Gendang Ngkaer. Rumah adat yang telah selesai dibangun bukan hanya membutuhkan perawatan secara fisik, tetapi juga perlu dihidupi dengan perilaku yang sesuai dengan nilai adat dan kehidupan bermasyarakat.
Ambrosius mengibaratkan proses membersihkan sisa-sisa pembangunan rumah adat sebagai pesan bagi kehidupan warga.
“Selama kegiatan pembangunan rumah adat ini kan banyak kotoran-kotoran yang dibuang. Kemudian diharapkan itu bisa kita kembangkan, kita kaitkan dengan perilaku kita sehari-hari, supaya yang tidak berkenan itu jangan dipakai,” katanya.
Caci dan Persaudaraan
Rangkaian Congko Lokap Gendang Ngkaer diawali dengan berbagai kegiatan adat dan penyambutan tamu. Salah satunya Tiba Meka Landang dari Karot, Lelak.
Para tamu disambut melalui tradisi tuak ris dan manuk kapu sebagai bentuk penghormatan sekaligus membuka ruang persaudaraan.
Pada 8 hingga 9 September 2026, halaman mbaru gendang Ngkaer menjadi tempat berlangsungnya pertunjukan Caci.
Para ata Caci menunjukkan ketangkasan dalam permainan tradisional Manggarai tersebut. Bunyi kalus dan gerakan nggiling menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari pertunjukan.

Caci tidak hanya dapat dilihat sebagai hiburan. Di dalamnya terdapat nilai keberanian, ketangkasan, sportivitas, penghormatan, dan interaksi sosial antar sesama.
Kehadiran warga secara bersama-sama selama rangkaian kegiatan juga memperlihatkan bahwa tradisi adat masih memiliki ruang dalam kehidupan masyarakat.
“Seluruh warga Desa Ngkaer hadir dalam rangkaian kegiatan tersebut, termasuk unsur pemerintah desa. Kehadiran berbagai unsur masyarakat membuat pelaksanaan Congko Lokap berlangsung dalam suasana kebersamaan dan berjalan lancar hingga puncak acara pada 10 September 2026,” Kata Ambrosius.
Puncak Acara Roba Kaba
Puncak Congko Lokap Gendang Ngkaer dilaksanakan pada 10 September 2026 melalui acara Roba Kaba, yakni salah satu rangkaian persembahan adat.
Sebelum mengikuti rangkaian puncak tersebut, warga terlebih dahulu menjalani oke Saki dalam adat Manggarai. Dalam pemaknaan masyarakat Ngkaer, oke Saki merupakan bagian dari proses membersihkan noda kesalahan yang telah dilakukan, sehingga hati dan pikiran dipersiapkan sebelum mengikuti Roba Kaba.
Oke Saki juga dimaknai sebagai upaya agar warga dapat mengikuti rangkaian adat dengan hati yang bersih serta memohon restu leluhur.
Tahapan lain adalah Barong Wae. Kegiatan ini diikuti oleh warga adat untuk mengajak dan petunjuk leluhur agar hadir merestui acara congko lokap tersebut.
Setelah tahapan tersebut, masyarakat mengikuti Roba Kaba sebagai bagian penting dari puncak rangkaian Congko Lokap.
Dalam ritus tersebut, masyarakat menyampaikan rasa syukur atas apa yang telah diterima sekaligus memohon rahmat bagi kehidupan warga dan generasi yang akan datang.
Roba Kaba juga menjadi ruang bagi masyarakat untuk menyampaikan harapan agar kehidupan warga senantiasa mendapat rezeki dan kemudahan dalam berbagai bidang.
Harapan tersebut mencakup dunia pendidikan, pekerjaan, serta kesehatan bagi warga dan generasi penerus.

Ritus tersebut menjadi bagian penting dari keseluruhan rangkaian Congko Lokap karena tidak hanya melihat apa yang telah diterima masyarakat, tetapi juga menyampaikan permohonan agar kehidupan ke depan tetap diberikan kebaikan dan keberkahan.
Setelah rangkaian Roba Kaba selesai, kegiatan kemudian ditutup dengan perayaan liturgi.
Perayaan tersebut menjadi bagian dari ungkapan syukur masyarakat kepada Tuhan setelah seluruh rangkaian adat dilaksanakan.
Pertemuan antara adat dan liturgi tersebut memperlihatkan kehidupan masyarakat Manggarai yang tetap menjaga tradisi leluhur sekaligus menjalankan kehidupan iman.
Merawat Warisan Leluhur
Mbaru gendang kemudian tidak hanya dipahami sebagai sebuah bangunan. Ia merupakan rumah bersama yang menjadi tempat masyarakat berkumpul, bermusyawarah, membangun hubungan kekeluargaan, dan menjaga identitas komunitas.
Karena itu, selesainya pembangunan mbaru gendang bukan menjadi akhir dari tanggung jawab masyarakat. Justru setelah rumah adat selesai, nilai-nilai yang terkandung di dalamnya perlu terus dijalankan dalam kehidupan sehari-hari.
Congko Lokap menjadi pengingat bahwa warisan budaya tidak cukup hanya dijaga melalui bangunan, ritual, dan pertunjukan.
Warisan tersebut juga membutuhkan perilaku masyarakat yang menghormati adat, menjaga hubungan dengan sesama, dan tidak meninggalkan nilai-nilai yang diwariskan leluhur.
Kehadiran warga dengan pakaian putih dan kain Songke Todo menjadi salah satu gambaran bagaimana identitas budaya tetap hadir dalam kehidupan masyarakat. Balutan pakaian tersebut sekaligus dimaknai sebagai simbol kejernihan hati dalam mengikuti dan menjalankan rangkaian adat.
Ambrosius Garung menyampaikan terima kasih kepada seluruh warga Desa Ngkaer yang telah bersama-sama mendukung dan melancarkan seluruh proses kegiatan Congko Lokap.
Ia juga menyampaikan apresiasi kepada pihak-pihak eksternal yang turut membantu menyukseskan kegiatan tersebut.
“Terima kasih kepada seluruh warga Desa Ngkaer yang telah melancarkan proses kegiatan ini. Termasuk juga pihak eksternal yang tidak bisa saya sebutkan satu per satu, yang telah membantu melancarkan kegiatan ini,” kata Ambrosius.

Seluruh rangkaian kegiatan tidak terlepas dari kerja panitia, tua adat, dan warga yang mengambil bagian dalam persiapan hingga pelaksanaan acara.
Pada akhirnya, Congko Lokap Gendang Ngkaer bukan hanya tentang sebuah acara yang berlangsung selama beberapa hari.
Ia menjadi ruang perjumpaan masyarakat, tempat tradisi diwariskan, nilai persaudaraan diperkuat, serta doa dan harapan disampaikan bagi kehidupan warga dan generasi mendatang.
Di tengah perubahan zaman, keberlangsungan tradisi seperti Congko Lokap menjadi penting karena generasi muda tidak hanya membutuhkan pengetahuan tentang adat, tetapi juga ruang untuk mengalami, memahami, dan menjalankan nilai-nilai tersebut.
Mbaru gendang yang telah melalui Congko Lokap diharapkan tetap menjadi rumah bersama warga Ngkaer. Bukan hanya sebagai simbol budaya, tetapi sebagai tempat menjaga persaudaraan, bermusyawarah, dan meneruskan warisan leluhur kepada generasi berikutnya.***

