Dari keterbatasan Menuju Pengabdian, Kisah Alexandro Rolandi Calon Ketua PP PMKRI

Foto: Alexandro Rolandi Calon Ketua Pusat PMKRI Periode 2026-2028. Foto: Aristo

Petanttnews.com- Tidak semua pemimpin lahir dari kemewahan. Ada yang ditempa oleh kerasnya kehidupan, dibesarkan oleh keterbatasan, dan dibentuk oleh perjuangan yang tak pernah berhenti. Kisah itulah yang menggambarkan perjalanan hidup Alexandro Rolandi.

Roland sapaan akrabnya Ini, lahir 8 November 1998 di Maumere, Flores Sikka, dari keluarga sederhana. Tahun 1998 menjadi titik balik perjalanan keluarganya. Desakan ekonomi memaksa mereka meninggalkan kampung halaman dan merantau ke Sorong, Papua, dengan harapan memperoleh kehidupan yang lebih baik.

Masa kecilnya diwarnai perjuangan. Keterbatasan ekonomi bukan alasan untuk berhenti bermimpi. Ia memilih terus belajar meski harus menghadapi berbagai kesulitan.

Pendidikan ditempuhnya di mulai dari SD di YPPK St. Paulus Teminabuan, kemudian berkat kecerdasannya, Ia menempuh pendidikan Seminari Menengah Petrus Van Diepen hingga lulus SMP dan SMA. Namun, cita-cita melanjutkan ke Seminari Tinggi harus dikubur karena kondisi ekonomi keluarga yang tidak memungkinkan.

Keadaan tidak membuatnya menyerah. Rolandi justru mengambil jalan lain. Ia berangkat ke Denpasar untuk melanjutkan pendidikan di Sekolah Tinggi Bahasa Asing tepatnya di kampus Mahasaraswati Denpasar.

Di kota perantauan itu, ia menjalani kehidupan sebagai mahasiswa yang harus bekerja demi membiayai kuliah dan memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Rolan yang merupakan anak Sulung dari lima bersaudara dipaksakan untuk bekerja membiayai keras hidup di Bali Denpasar ini.

Foto: Alexandro Rolandi saat mendampingi anak-anak Papua. (Ist.)

Kesibukan bekerja tidak menghalangi semangatnya berorganisasi. Ia bergabung dengan PMKRI Cabang Denpasar. Di organisasi inilah jiwa kepemimpinannya mulai terasah. Berkat kerja keras, kecerdasan, dan kerendahan hati, Roland dipercaya memimpin PMKRI Cabang Denpasar sebagai Ketua periode 2022–2023.

Di balik aktivitas organisasi, Rolandi juga bekerja sebagai wartawan. Profesi itu bukan sekadar mata pencaharian, tetapi menjadi ruang baginya untuk belajar memahami persoalan masyarakat sekaligus memperjuangkan suara mereka yang kerap tidak terdengar.

Usai menyelesaikan masa kepemimpinannya di PMKRI Denpasar, Rolandi memilih kembali ke Papua. Di tanah yang telah membesarkannya, Ia tidak mengejar kenyamanan, melainkan memilih mengabdikan diri melalui dunia pendidikan.

Bersama sejumlah anak muda, ia membuka ruang belajar dan advokasi pendidikan bagi masyarakat. Hampir setiap hari sepanjang tahun 2025, Ia mendampingi anak-anak dan pemuda Papua dengan keyakinan bahwa pendidikan adalah jalan terbaik untuk mengubah masa depan.

Bagi Roland, kepemimpinan bukan tentang jabatan, melainkan tentang keberanian hadir di tengah masyarakat dan menjadi bagian dari solusi. Pengalaman hidup sebagai anak perantauan, mahasiswa yang bekerja demi bertahan hidup, aktivis organisasi, wartawan, hingga pegiat pendidikan telah membentuk karakter kepemimpinannya.

Foto: Foto Alexandro Rolandi dengan Anak-anak Papua. (Ist)

Memasuki tahun 2026, setelah melalui perenungan yang panjang, Alexandro Rolandi memutuskan maju sebagai calon Ketua Pengurus Pusat PMKRI St. Thomas Aquinas dalam Kongres dan Majelis Permusyawaratan Anggota (MPA) di Ruteng.

Keputusan itu bukan sekadar langkah politik organisasi, melainkan lanjutan dari perjalanan panjang seorang anak sederhana yang percaya bahwa keterbatasan bukanlah penghalang untuk mengabdi.

Dari Maumere, merantau ke Papua, ditempa di Denpasar, lalu kembali mengabdi di Papua, Rolandi kini membawa harapan agar PMKRI semakin dekat dengan persoalan rakyat, semakin peduli terhadap pendidikan, dan semakin kuat melahirkan kader-kader pemimpin masa depan.

Perjalanan Alexandro Rolandi membuktikan satu hal: orang yang lahir dari keterbatasan dapat tumbuh menjadi pemimpin, asalkan tidak pernah berhenti belajar, bekerja, dan mengabdi.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *